Logo

Pengabdian kepada Masyarakat: Pemanfaatan Lebah Tanpa Sengat (Stingless Bee) di Perkebunan Kopi Pamijahan, Bogor Oleh: Nadzirum Mubin, SP., MSi

Pelatihan pemanfaatan lebah tanpa sengat (stingless bee) di perkebunan kopi Pamijahan, Bogor ini dilaksanakan di Kp. Cikuda Mulya, Desa Purwabakti, Kec. Pamijahan, Bogor pada hari Sabtu, 28 Nopember 2020 oleh Nadzirum Mubin, SP., MSi staf Departemen Proteksi Tanaman, Fakutas Pertanian, IPB University yang bekerjasa sama dengan Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) dan menjadi bagian dari tugas habituasi CPNS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2020. Pelatihan dihadiri oleh petani kopi Cikuda Mulya yang menanam jenis kopi Arabica dan Robusta.

Kopi merupakan minuman yang sudah umum diketahui dan mempunyai nilai tersendiri bagi penikmatnya. Harga secangkir kopi mulai dari 5 ribu hingga 50 ribu (di café atau restaurant). Minuman ini menjadi favorit mulai dari remaja hingga orang tua sekalipun. Produksi buah kopi menjadi yang utama sehingga beragam upaya dilakukan seperti pemupukan, penyiangan, pemberian naungan dan lain sebagainya. Akan tetapi, masih banyak yang belum mengetahui bahwa kopi yang dihidangkan dalam secangkir gelas itu membutuhkan peranan penting dari serangga pemberi jasa ekosistem (ecosystem services) yaitu penyerbuk. Buah kopi yang berasal dari bunga tidak serta merta berhasil menjadi buah kopi yang siap panen, akan tetapi bunga kopi membutuhkan bantuan penyerbuk untuk membantu proses tersebut. Menurut beragam penelitian, penyerbuk yang dominan diketahui adalah kelompok lebah. Lebah menjadi penyerbuk secara tidak sengaja karena sumber pakan lebah adalah nektar dan serbuk sari dari bunga-bunga tanaman. Ketika lebah mencari pakan di bunga, bagian tubuh lebah yaitu tungkai belakang (pollen basket pada tibia tungkai belakang termodifikasi) atau rambut-rambut dari tubuh lebah membawa serbuk sari kemudian lebah berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain dan secara tidak sengaja lebah menjatuhkan serbuk sari ke kepala putik (organ betina bunga) sehingga terjadilah penyerbukan. Semakin tinggi kesempatan putik dalam menerima serbuk sari, semakin tinggi pula persentase terbentuknya buah dan biji (fruit set dan seed set) pada suatu tanaman.

Proses penyerbukan ini umum dilakukan oleh lebah, akan tetapi hal ini terjadi secara alami tanpa adanya campur tangan manusia. Introduksi lebah pada suatu pertanaman atau perkebunan mampu meningkatkan produksi buah dan biji dari suatu tanaman. Lebah yang sering dijumpai dan diketahui adalah jenis lebah Apis sp. yang berwarna kuning dengan garis hitam pada perutnya (abdomen) serta mempunyai sengat pada bagian perutnya. Banyak petani dan masyarakat awam tidak berani memanfaatkan lebah jenis ini karena dapat menyengat dan melukai orang yang ada di sekitarnya. Serta lebah jenis Apis sp. mempunyai kisaran harga koloni yang relatif mahal serta tidak tahan dengan gangguan atau aktifitas manusia di sekitarnya. Akan tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ditemukan jenis lebah yang pertahanannya tidak menggunakan sengat atau sering dikenal dengan lebah tanpa sengat (stingless bee). Kelompok lebah tanpa sengat ini sangat banyak jenisnya salah satunya adalah Tetragonula laeviceps (Hymenoptera: Apidae: Meliponini).

Lebah T. laeviceps berukuran kecil, berwarna kehitaman, seringkali ditemukan bersarang di bambu, kusen rumah, kusen pintu, celah rumah atau celah pepohonan. Lebah tanpa sengat ini mempunyai keunggulan dibandingkan lebah Apis sp. selain dari ketiadaan sengat tetapi lebah stingless bee mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitarnya, lebih tahan terhadap gangguan manusia dan ramah (user friendly), lebih mudah dikembangbiakkan, menghasilkan madu dengan kandungan antioksidan yang tinggi (ciri khasnya sedikit asam), menghasilkan propolis, serta yang utama adalah lebah tanpa sengat ini yang bersifat generalis karena mampu menyerbuki beragam jenis bunga.

Proses budidaya lebah tanpa sengat atau lebih dikenal dengan Meliponiculture ini cukup mudah. Ketika mendapatkan sarang dari koloni lebah jenis T. laeviceps cukup menyiapkan kotak atau stup berukuran 10 x 10 x 30 cm dari kayu sengon atau sejenisnya kemudian koloni yang ditemukan dipindahkan ke kotak tersebut dengan memerhatikan yang utama yaitu adanya ratu lebah, sebagian sel anakan (brood cell) dipindah serta sebagian sel penyimpanan madu dan tepung sari (storage cell) juga ikut dipindahkan agar koloni bisa beradaptasi di sarang yang baru terlebih dahulu.

Pemanfaatan lebah tanpa sengat di perkebunan kopi merupakan suatu upaya untuk meningkatkan produktivitas kopi, selain itu petani juga dapat mendapatkan keuntungan berupa madu dan propolis. Ketika produksi kopi meningkat, petani mendapatkan keuntungan secara finansial yang tinggi untuk mencukupi kehidupan sehari-hari dan tak kalah menguntungkannya yaitu petani mendapatkan madu yang dapat dipanen sendiri guna meningkatkan imunitas tubuh baik untuk keluarga sendiri maupun untuk masyarakat pada umumnya. Tidak hanya di masa pandemic Covid-19 ini yang membutuhkan imunitas yang baik, tetapi setelah pandemic pun tubuh masih tetap membutuhkan imunitas untuk menjaga stamina tubuh dalam bekerja.

So, mari kita optimalkan lebah sebagai penyerbuk. Hasil kopi meningkat, madu pun dapat.