Logo

Safari Klinik Pertanian Nusantara: Provinsi Lampung

Safari Klinik Pertanian Nusantara kegiatan Collaborative Innovation Center (CIC) Program Pengabdian kepada Masyarakat LPPM IPB

Tanggal 5 – 8 September 2018 di Provinsi Lampung

Kegiatan ini dilakukan di beberapa lokasi di Provinsi Lampung pada tanggal 5-8 September 2018. Kegiatan berfokus pada Klinik Kesehatan Tanaman dan Klinik Kesehatan Hewan. Pada program Klinik Kesehatan Tanaman di beberapa lokasi penyuluhan seperti di Metro Lampung Tengah dan di Desa Taman Endah Kec. Purbolinggo – Lampung Timur permasalahan yang dialami sama yaitu adanya serangan hama wereng coklat/ Nilaparvata lugens (Hemiptera: Delphacidae), penggerek batang padi kuning/ Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Crambidae), dan tikus sawah/ Rattus argentiventer (Gambar 1).  dan tikus yang menyebabkan kegagalan di beberapa kali musim tanam sebelumnya. Serangan wereng coklat dan tikus ini menyerang hampir di 20 ha sawah dan diperkirakan kerugian yang dialami petani mencapai 540juta rupiah (GKG). Selain serangan wereng coklat dan tikus, juga ditemukan kepinding tanah/ Scotinophara coarctata (Hemiptera: Pentatomidae), walang sangit/ Leptocorisa oratorius (Hemiptera: Alydidae), dan hama umum lainnya.

Hasil pemaparan yang diberikan oleh Nadzirum Mubin, SP., MSi dan Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, MSc menjelaskan bahwa fenomena serangan hama yang menyebabkan gagal panen disebabkan oleh kekhawatiran dari petani akibat dari serangan hama yang menyerang tersebut. Karena petani merasa khawatir tidak akan memperoleh hasil dari sawah akibat serangan hama, maka tindakan petani selanjutnya yaitu melakukan penyemprotan/aplikasi pestisida. Penyemprotan pertama menggunakan dosis rendah, jika hamanya belum mati maka dilanjutkan penyemprotan dengan dosis sedang, dan jika hama belum juga mati maka petani melakukan tindakan terakhir dengan melakukan penyemprotan dengan dosis tinggi. Alhasil yang terjadi di lapangan adalah hama yang menyerang bukannya semakin menurun populasinya malah sebaliknya yaitu populasi hama semakin banyak dan menyebabkan kerusakan hingga puso (Gambar 2).

Fenomena itu berbeda dengan hasil wawancara kepada beberapa petani seperti Pak Sujino dan Pak Sunyoto. Mereka menyebutkan bahwa jika di sawah ditemukan hama 3-5 per rumpun, dengan kondisi di lapangan masih ditemukan banyak sarang laba-laba atau musuh alami lainnya maka tindakan yang dilakukan adalah tidak melakukan penyemprotan. Jika perilaku petani yang seringkali geram saat melihat adanya hama di lapangan maka yang dilakukan mereka adalah tetap menyemprot tetapi menggunakan bahan-bahan yang bukan berbahaya (racun) yaitu dengan menggunakan Bio-Pestisida yang kebanyakan mengandung pupuk hayati. Hasil dari perilaku dan tindakan petani tersebut ternyata mampu menyelamatkan hasil panen (Gambar 3).

Selain di Metro dan Kec. Purbolinggo-Lampung Timur, penyuluhan juga dilakukan di Desa Mulya Jaya, Kec. Tulang Bawang Tengah, Kab. Tulang Bawang Barat. Beberapa petani selain menjadi petani padi juga merupakan petani karet dan singkong. Beberapa petani bertanya terkait bagaimana cara mengendalikan tikus. Pengendalian tikus sudah sering dilakukan, akan tetapi tikus seringkali ditemukan merusak pertanaman. Solusi yang dapat diberikan untuk pengendalian tikus adalah perlu adanya kerjasama dari seluruh petani setempat. Prinsip dasar dari hewan yaitu akan mencari sumber pakan. Sehingga jika suatu desa melakukan pengendalian di sawahnya tapi desa lain tidak melakukan pengendalian maka yang terjadi akan sia-sia proses pengendaliannya karena tikus akan berpindah dari lokasi satu ke lokasi yang lainnya. Adanya kerjasama dalam pengendalian dimaksudkan untuk menuntaskan keberadaan tikus di lapangan seluruhnya. Pengendalian dapat dilakukan dengan gropyokan atau memberikan tetes tebu atau air gula merah ke lubang aktif tikus karena diharapkan ketika indukan masuk ke dalam lubang maka air gula dapat menempel ke badan tikus, selanjutnya pada saat indukan menyusui ke anakan maka air gula tersebut dapat menempel juga ke tubuh anakan tikus. Air gula yang tertempel ke anakan tikus akan didatangi semut, sehingga anakan tikus akan sangat terganggu dengan keberadaan semut sehingga dapat menyebabkan kematian pada anakan tikus tersebut.

Pertanyaan selanjutnya yaitu tentang kanker kulit pada karet. Karet bekas sadapan tidak dapat mengalir lagi setelah beberapa kali di sadap, kemudian hal yang dilakukan petani adalah menyadap pada bagian atas pohon karet. Karena petani tidak membawa sample tanaman, Tim Klinik Kesehatan Tanaman IPB mendatangi lokasi dari pertanaman Karet. Pada saat proses wawancara, Tim Klinik Tanaman IPB mendapatkan kata kunci dari penyakit kanker kulit tersebut hingga menyebabkan penyakit kanker kulit ini dapat menyebar hampir ke seluruh pepohonan karet yang ada. Kata kunci yang ditemukan adalah penggunaan alat sadap yang sama. Ketika ada pohon karet yang sudah terserang penyakit kanker kulit, kemudian dicoba tetap di sadap dengan pisau sadap yang sama maka penyakit dari kanker kulit tersebut akan menempel pada pisau sadap tersebut. Karena kurangnya pengetahuan dari petani, maka pisau sadap akan tetap digunakan untuk menyadap pohon-pohon karet yang lainnya. Sehingga yang terjadi adalah pohon karet menjadi terkena serangan penyakit kanker kulit semua sehingga getah karet tidak dapat muncul. Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu dengan mengelupas kulit karet kemudian diberikan obat seperti belerang atau dolomit yang dilumurkan ke batang tersebut, dalam beberapa bulan diharapkan kulit karet dapat pulih kembali. Selain itu juga diperhatikan agar penyakit kanker kulit tersebut tidak menyebar kembali yaitu setiap menggunakan pisau sadap perlu dicuci dengan cara mencelupkan ke air detergen/kloroks/bayclean (pembersih baju) setiap kali akan menyadap. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat penyebaran dari penyakit kanker batang yang terbawa dari pisau sadap tersebut.

Ditulis oleh: Nadzirum Mubin, SP., MSi

PDF Download