Logo

Daftar Berita

Liputan: Turun Lapang PTN55 2019

Turun Lapang merupakan agenda tahunan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita), Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University.

Tahun ini, acara turun lapang dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 23-24 Nov 2019 di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TN GHS), Bogor.

Tujuan diadakan turun lapang yaitu untuk meningkatkan kekompakan sesama teman angkatannya, meningkatkan kedekatan dengan kakak tingkatnya, serta mengenalkan mahasiswa yang baru masuk departemen untuk lebih mencintai kehidupan bersosial, tutur Kevin selaku ketua acara turun lapang tahun ini. Kevin Johnson Sipayung atau biasa dipanggil Kevin merupakan mahasiswa Dept. Proteksi Tanaman angkatan 54 (PTN 54). Peserta utama berasal dr angkatan paling muda di departemen yaitu PTN 55 (IPB 2019), Kevin menambahkan. Selain itu, kakak angkatan mulai dari PTN 52 dan 53 juga datang untuk menambahkan kemeriahan turun lapang hari itu. Kevin menjelaskan, turun lapang sengaja dilakukan di area TNGHS karena dekat dengan Kampus IPB Dramaga serta TNGHS mempunyai kondisi yang masih alami dan sejuk sehingga sangat cocok untuk mengakrabkan adik-adik angkatan agar dapat keluar dari kejenuhan di Kampus, pungkas Kevin. Kevin berharap, dengan adanya turun lapang ini adik-adik angkatan lebih dapat mengenal teman seangkatannya, memahami arti kebersamaan, serta lebih peduli terhadap semuanya.

Beberapa rangkaian agenda turun lapang yaitu malam keakraban, games, renungan malam, tracking, serta penyematan baju lapang sebagai ujung dari agenda turun lapang ini. Kegiatan turun lapang ini dibawah arahan dari Komisi Kemahsiswaan yaitu Bonjok Istiaji, MSi serta dosen pendamping lainnya yaitu Dr. Kikin H. Mutaqin dan Nadzirum Mubin, MSi.

Pak Bonjok berharap acara seperti ini menjadi rutinitas yang baik sehingga harus dipertahankan, karena efeknya tidak hanya satu atau dua hari tetapi bisa seumur hidup. Pengalaman turun lapang pasti akan dikenang dan sangat berharga nantinya, pungkas Pak Bonjok.

PDF Download

Prestasi: Juara tiga Entomo Games, Insect Day 2019

Satu lagi prestasi diujung tahun 2019 ini diraih oleh delegasi Departemen Proteksi Tanaman pada ajang Insect Day 2019. Insect Day merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Tahun ini Insect Day diadakan pada tanggal 22-24 November 2019 di Yogyakarta.

Delegasi mahasiswa PTN yang tergabung dalam Team IPB 1 meraih juara tiga pada Entomo Games, team ini terdiri dari lima mahasiswa, Allen Okta Kusmita (A34160013), Dhea Amelia Kusuma (A34160009), Muhammad Al Falaah (A34160032), Hana Khoirunisa (A34170068), Putri Ayu Ira Distriani (A34160007).

Prestasi ini melengkapi deretan prestasi yang diraih oleh mahasiswa PTN pada tahun 2019 ini.

PDF Download

Liputan: Kuliah Umum MK. Hama Gudang dan Permukiman (PTN 311) 2019

Pengelolaan Hama Gudang dan Permukiman menjadi permasalan setiap saat. Selama masih ada aktifitas manusia, hama tersebut juga ada berada di sekitarnya. Departemen Proteksi Tanaman, mempunyai mata kuliah yang cukup banyak terkait hama dan penyakit tanaman, salah satunya yaitu MK Hama Gudang dan Permukiman (PTN 311). Hampir setiap tahun, mata kuliah ini selalu mengundang narasumber dari perusahaan untuk memberikan materi pembekalan kepada para mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut. Pada kesempatan ini, Kuliah Umum diselenggarakan pada hari Rabu, 20 Nopember 2019 dengan narasumber Radhy Alfitra, SP. Pak Radhy merupakan salah satu lulusan PTN 44 yang sekarang bekerja di PT Etos Indonusa sebagai Chief Operating Officer Jawa Barat Sumatera. Tema kuliah umum yang dibawakan yaitu tentang “Operasional Pelaksanaan Jasa Pest Control dan Upaya dalam Membangun Karier di Perusahaan Pest Control”. Mata Kuliah ini di-ampu oleh Dr. Idham Sakti Harahap, Dr. Swastiko Priyambodo, Lia Nurulalia, MSi, dan Nadzirum Mubin, MSI dengan peserta yang hadir mahasiswa Proteksi Tanaman Angkatan 54 sebanyak 92 orang.

Keberadaan perusahaan pest control berawal dari adanya keresahan masyarakat terkait kesehatan, kerusakan pada furniture, gangguan lingkungan, infestasi pada makanan, dan sebagainya, tutur Radhy.

Radhy juga menambahkan, keresahan masyarakat yang hampir setiap tahun dialami adalah adanya serangan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti atau Ae. albopictus dan itu menjadi permasalahan serius yang sangat perlu dibereskan. Tidak hanya nyamuk penyebab DBD, nyamuk rumah dengan jenis Culex sp. juga dapat menjadi penular penyakit kaki gajah, chikungunya dll. Sehingga hal tersebut perlu adanya pengelolaan dan penganganan yang serius.

Permasalahan lainnya yang sering dialami yaitu ada kerusakan pada perumahan dan furniture di perkotaan. Perumahan dan furniture sekarang banyak yang serba instan artinya banyak yang sudah menjadi barang jadi dalam waktu yang relatif singkat tanpa melihat keamanan dari serangan hama pengganggu seperti rayap. Rumah yang sekarang dibangun dalam waktu singkat membuat orang jarang berpikir untuk berinfestasi dalam pengelolaan terhadap serangan hama, padahal ketika adanya serangan hama seperti rayap dapat menyebabkan infestasi awal yang cukup besar tersebut dapat hilang dalam waktu yang cukup singkat akibat serangan rayap.

 

Pengelolaan hama bangunan seperti rayap perlu memerhatikan aspek lingkungan. Karena sekarang aspek lingkungan juga menjadi konsen serius oleh para penerima jasa pest control. Pengelolaan hama bangunan seperti rayap dahulu menggunakan sistem pre- dan post construction yaitu dengan cara menginjeksikan cairan termitisida ke dalam lantai untuk memberikan penghalang/barrier akan kehadiran rayap. Pemberian penghalang tersebut dapat dilakukan sebelum maupun setelah bangunan didirikan. PT Etos memberikan inovasi terbaru yaitu tidak harus mengebor nat (celah diantara lantai keramik) karena dapat merusak lantai tapi menggunakan sistem melumuri lantai dengan cairan termisida. Karena bahwasanya cairan pestisida tersebut dapat masuk ke dalam pori-pori dari lantai tersebut tanpa harus merusak nat/celah lantai. Selain itu, pengendalian rayap yang umum digunakan adalah menggunakan umpan/bait, tapi Radhy mengatakan bahwa rumah merupakan umpan berupa seluloa yang lebih melimpah jika dibandingkan dengan umpan yang hanya dipasang satu atau lima sekalipun itu tidak signifikan mampu menarik rayap untuk datang. Radhy mengatakan, perusahaannya menawarkan Smart System lainnya yaitu dengan memasang termisida tipe kontak dengan mode of action yang ralatif lama sehingga diharapkan dari perilaku rayap yang ada seperti trofalaksis, rayap pekerja akan memberikan pakan dan bergesekan secara tidak langsung dengan anggota koloni yang lain hingga sampai ke ratunya juga. Ratu rayap sangat potensial dalam menghasilkan telur. Ratu mampu bertelur hampir 50ribu per hari, sehingga jika ratu tersebut dapat dikendalikan maka populasi akan tereliminasi nantinya.

Gangguan lingkungan, yang menjadi permasalahan yaitu serangan serangga terbang seperti nyamuk dan lalat. Tempat sampat dan wadah-wadah berisi air yang tersembunyi menjadi sumber utama keberadaan mereka dalam berkembang biak. Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan treatment pada sumbernya yaitu TPS (tempat pembuangan sampah). Sebaiknya TPS diletakkan diletakkan minimal 15 meter dari lokasi gedung, ditutup dan ditata dengan rapi. Selain itu, penggunaan lampu juga dapat dilakukan. Sekarang banyak teknologi yang dikembangkan seperti lampu bertipe invisible light. Dulu, lampu dapat berfungsi menarik serangga untuk datang mendekat, tapi dengan teknologi invisible light tersebut serangga tidak mampu mengenali gelombang cahaya yang dihasilkan sehingga lampu tetap bersinar terang tetapi serangga hama tidak tertarik dengan cahaya tersebut.

Permasalahan lainnya yaitu adanya serangan kecoa di rumah, rumah makan, dapur dll. Telur kecoa atau biasa disebut ooteca berisikan kelompok telur mempunyai fakta menarik bahwa ooteca dari kecoa German Cockroach (Blatella germanica) berisi hampir 20 nimfa di dalamnya. Isi ooteca kecoa Jerman tersebut lebih banyak dibandingkan kecoa amerika (Periplaneta americana) yang hanya 12-16. Fakta lain disebutkan oleh Radhy bahwa telur kecoa tidak mampu dikendalikan dengan pestisida sintetik manapun, dan itu menjadi kuasa Illahi, tambah Radhy. Hal tersebut disebabkan karena kecoa merupakan hewan purba yang hidup 200 tahun yang lalu bersamaan dengan dinasaurus tetapi kecoa tidak mengalami evolusi yang signifikan. Karena termasuk hewan purba, kecoa mempunyai keunikan yaitu telurnya yang keras dan tidak mampu ditembus oleh jenis pestisida manapun.

Hama pengganggu tidak dapat dimusnahkan tapi yang dapat dilakukan yaitu melakukan pengelolaan. Dalam tahapan pengelolaan hama, ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan yaitu survei, identifikasi, rekomendasi, treatment, dan evaluasi. Lulusan Proteksi Tanaman mempunyai keunggulan dalam idenfikasi hama baik tikus maupun hama gudang dan permukiman. Dulu secara konvensional, porsi Treatment atau penyemprotan menggunakan pestisida itu menjadi yang utama. Tapi sekarang, porsi yang paling besar adalah monitoring dan evaluation. Pengelolaan yang dilakukan juga perlu melihat estetika lanskap. Pemotongan dahan atau tanaman yang menempel atau terlalu dekat dengan gedung perlu dipangkas, karena pohon atau dahan tersebut menjadi resting area atau area singgah dari lalat atau serangga lainnya. Bahkan dahan yang menjuntai ke gedung dapat menjadi perantara tikus untuk melompat ke dalam gedung. Selain pohon dan dahan, kabel juga dapat menjadi perantara. Di beberapa pabrik yang sudah menjadi mitra pest control sudah menerapkan pengelolaan kabel yang ditanam di bawah tanah untuk mengurangi adanya entry point untuk tikus maupun serangga hama lainnya.

Pada sesi terakhir, Pak Radhy menuturkan bahwa semua pestisida yang digunakan sama, tapi yang membedakan perusahaan pest control satu dengan yang lainnya adalah Man Behind the Gun yaitu siapa dibalik senjata yang digunakan. Radhy juga menambahkan, peranan perusahaan pest control hanya 10%, sisanya adalah partisipasi aktif dari klien. Karena setiap harinya klien-lah yang selalu beraktivitas dan dapat melakukan pengelolaan yang menjadi sumber makanan atau sumber sarang untuk berkembang biak dari hama gudang maupun permukiman.

PDF Download

Liputan: Pastikan Hasil Uji Akurat, Karantina Pertanian Uji Standar Lakukan Validasi Metode Uji Bersama Departemen Proteksi Tanaman

Jakarta - Karantina Pertanian Uji Standar sebagai pusat laboratorium pengujian di bawah Badan Karantina Pertanian (Barantan) selalu memastikan hasil ujinya akurat. Metode yang digunakan telah tervalidasi melalui proses yang dinamakan validasi metode uji.

Baru-baru ini, dua metode uji deteksi dan identifikasi hama penyakit tanaman telah berhasil divalidasi, yaitu uji Squash mosaic comovirus (SqMV) dan Cucumber green mottle mosaic tobamovirus (CGMMV) dengan metode ISTA (7-026) dan metode uji Ditylenchus spp. pada umbi bawang putih dengan metode morfologi.

"SqMV dan CGMMV termasuk Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) dari golongan virus yang menyerang tanaman dari keluarga Cucurbitaceae atau labu-labuan seperti timun,melon dan lainnya," ujar Derhani, ketua tim validasi metode uji virus.

Adapun Ditylenchus spp. termasuk OPT dari golongan nematoda. “Dalam Permentan Nomor 31 tahun 2018, terdapat dua spesies Ditylenchus yang merupakan OPTK, yaitu Ditylenchus dipsaci dan Ditylenchus destructor. Keduanya menyerang umbi bawang putih," ujar Andi Prasetiawan, ketua tim validasi metode uji nematoda

Sriyanto, Kepala Karantina Uji Standar mengapresiasi keberhasilan tim dalam memvalidasi metode uji tersebut. "Kedua metode uji ini dikembangkan agar pemeriksaan laboratoris terhadap media pembawa OPTK valid dan hasil ujinya akurat. Keberadaan dan penyebaran OPTK tersebut pun dapat diketahui sedini mungkin," pungkasnya saat membuka seminar hasil validasi metode di Jakarta(13/11).

Seminar juga dihadiri oleh Tri Asmira Damayanti dan Supramana, staf pengajar dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian – IPB University. Keduanya memberi apresiasi terhadap tim Karantina Pertanian Uji Standar yang telah berhasil melakukan validasi pengujian.

#LaporKarantina

#KarantinaPertanianUjiStandar

PDF Download