Dampak Perubahan Iklim Terhadap Pengendalian Hama Perkotaan: Sebuah Tinjauan dari Seminar Ilmiah
Perubahan iklim global, sebuah isu yang semakin mendesak, tidak hanya memengaruhi ekosistem alam tetapi juga secara signifikan mengubah dinamika kehidupan hama di lingkungan perkotaan. Dampak ini menjadi sorotan utama dalam sebuah seminar bertajuk “Impact of Climate Change on Urban Pest Management” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Entomologi Indonesia. Acara ini merupakan kolaborasi antara Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, dan Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di IPB University. Seminar tersebut menampilkan Prof. Chow-Yang Lee dari Departemen Entomologi, University of California, sebagai pembicara utama.
Dasar-Dasar Perubahan Iklim dan Dampaknya
Prof. Lee membuka seminar dengan menjelaskan dasar-dasar perubahan iklim. Ia menyoroti bahwa Bumi mengalami pemanasan yang signifikan akibat peningkatan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2). Konsentrasi CO2 di atmosfer telah melonjak drastis, dari di bawah 300 ppm selama 800.000 tahun terakhir menjadi lebih dari 430 ppm saat ini. Data menunjukkan bahwa dekade terakhir secara konsisten menjadi periode terpanas yang pernah tercatat, mengindikasikan laju perubahan yang mengkhawatirkan.
Hama Perkotaan dan Respons Mereka terhadap Peningkatan Suhu
Pemanasan global memiliki dampak yang berbeda pada jenis hama yang berbeda. Hama yang hidup di dalam ruangan, seperti kutu busuk dan kecoak Jerman, relatif kurang terpengaruh karena lingkungan mereka sudah dikendalikan oleh manusia. Sebaliknya, hama yang hidup di luar ruangan, seperti semut, rayap, dan nyamuk, sangat terpengaruh. Suhu yang lebih tinggi mempercepat laju perkembangan serangga, memungkinkan mereka menyelesaikan siklus hidup lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak generasi dalam satu tahun. Hal ini berpotensi meningkatkan populasi hama secara eksponensial.
Peningkatan Risiko Penyakit Tular Vektor
Salah satu konsekuensi paling serius dari perubahan iklim adalah perluasan jangkauan geografis serangga penular penyakit (vektor). Nyamuk, misalnya, yang sebelumnya hanya bisa bertahan hidup di ketinggian hingga 1.000 meter, kini dapat ditemukan di ketinggian 2.200 meter. Selain itu, percepatan perkembangan serangga akibat suhu tinggi dapat menghasilkan nyamuk dengan ukuran lebih kecil, yang perlu lebih sering mencari makan (mengisap darah). Peningkatan frekuensi makan ini secara langsung meningkatkan risiko penularan penyakit.
Tantangan dalam Pengendalian Hama dan Kerusakan Bangunan
Perubahan iklim juga menghadirkan tantangan besar bagi strategi pengendalian hama yang ada. Efikasi insektisida menurun pada suhu yang lebih tinggi, dan termisida (insektisida untuk rayap) terdegradasi lebih cepat di lingkungan yang lebih hangat dan lembap. Selain itu, serangga mengembangkan kutikula yang lebih tebal dalam kondisi panas dan kering, yang membuat mereka lebih resisten terhadap bahan kimia. Dari sisi bangunan, perubahan iklim menyebabkan tekanan pada material bangunan, membuatnya lebih rentan terhadap serangan hama. Banjir dapat mendorong hama luar ruangan masuk ke dalam bangunan, dan penurunan kualitas kayu akibat kadar nitrogen yang lebih rendah membuatnya lebih rentan terhadap rayap.
Kesimpulan dan Rekomendasi Masa Depan
Di akhir presentasinya, Prof. Lee menekankan pentingnya mengembangkan strategi manajemen hama yang baru dan adaptif. Ia juga menyoroti ironi bahwa meskipun peran entomologi semakin krusial dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, banyak departemen entomologi di seluruh dunia justru digabung atau dihilangkan. Pesan utamanya adalah perlunya investasi yang lebih besar dalam pendidikan dan penelitian entomologi untuk memastikan kita memiliki pengetahuan dan alat yang diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim di masa depan.
Berikut merupakan video rekaman ful dari seminar “Impact of Climate Change on Urban Pest Management”: