IPB University Luncurkan Mobil Klinik Tanaman Terpadu, Buktikan Kampus Berdampak untuk Petani Indonesia

IPB University Luncurkan Mobil Klinik Tanaman Terpadu, Buktikan Kampus Berdampak untuk Petani Indonesia

IPB University Luncurkan Mobil Klinik Tanaman Terpadu, Buktikan Kampus Berdampak untuk Petani Indonesia

Bogor, 8 Juni 2026 – IPB University resmi meluncurkan Mobil Klinik Tanaman Terpadu pada Senin (8/6) di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB. Peluncuran dilakukan langsung oleh Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, sebagai langkah memperkuat layanan kesehatan tanaman bagi masyarakat tani di berbagai daerah. Acara ini juga dihadiri oleh keempat Wakil Rektor, sekretaris Institut, Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I), Dekan dan Wakil Dekan fakultas Pertanian, para ketua dan sekretaris departemen di fakultas Pertanian, dan tamu undangan lainnya.

Mobil Klinik Tanaman Terpadu ini menggantikan mobil klinik tanaman sebelumnya yang telah mengabdi selama 17 tahun. Dengan konsep laboratorium berjalan, kendaraan ini akan menjadi pusat layanan kepakaran kesehatan tanaman yang mampu menjangkau petani secara langsung di lapangan.

Dalam sambutannya, Dr. Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa kehadiran Mobil Klinik Tanaman Terpadu merupakan wujud nyata komitmen IPB University dalam mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

“Mobil Klinik Tanaman Terpadu harus menjadi bukti bahwa IPB hadir, dekat, dan bersahabat dengan masyarakat tani. Melalui layanan ini, keilmuan dan kepakaran yang dimiliki kampus dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh petani di berbagai daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB, Prof. Suryo Wiyono, menjelaskan bahwa Klinik Tanaman memiliki sejarah panjang dalam pengabdian kepada petani. Klinik Tanaman pertama kali didirikan oleh mahasiswa pada tahun 1979 dan terus berkembang hingga saat ini dikelola oleh Departemen Proteksi Tanaman.

Menurutnya, cikal bakal layanan keliling klinik tanaman dimulai melalui kegiatan Safari Klinik Tanaman pada tahun 2007 yang menjangkau 45 titik pertemuan di 25 kabupaten/kota di Pulau Jawa. Sejak saat itu, Mobil Klinik Tanaman telah melayani masyarakat tani di berbagai wilayah, antara lain Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Peluncuran Mobil Klinik Tanaman Terpadu mendapat sambutan positif dari para petani yang selama ini merasakan manfaat layanan tersebut.

Dihubungi secara terpisah, Sudargo, petani kawasan hutan dari Kecamatan Ronggo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berharap mobil baru ini dapat mengunjungi kelompok tani di daerahnya yang kerap menghadapi serangan hama tikus, burung, dan penyakit blas.

“Lahan di daerah kami umumnya tadah hujan, dan sering menghadapi kesulitan saat musim kemarau tiba. Selain masalah air, masalah hama juga tidak kalah beratnya. Kami berharap Mobil Klinik Tanaman Terpadu dapat datang ke wilayah kami untuk membantu petani mengatasi berbagai persoalan yang sering muncul di lapangan,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan oleh Choirul Anam, petani dari Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ia mengaku menantikan kehadiran mobil klinik tanaman baru sebagaimana mobil sebelumnya yang akrab dijuluki “Kebo Ijo”.

“Mobil Klinik Tanaman menjadi jembatan antara petani dengan para pakar di IPB. Tidak hanya soal hama penyakit tanaman, tetapi kami juga jadi bisa mengakses semua ilmu dan kepakaran yang ada di IPB. Jadi Klinik tanaman ini seperti jendela kecil untuk bisa melihat IPB yang begitu besar dan lengkap, begitulah kira-kira. Kami berharap layanan ini kembali hadir di daerah kami,” katanya.

Di Jawa Barat, Tarsono, petani dari Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, juga berharap mobil baru tersebut dapat melanjutkan kiprah mobil sebelumnya. Ia masih mengingat ketika para pakar IPB turun langsung ke Indramayu dan Subang untuk membantu petani menghadapi serangan penyakit virus padi dan wereng cokelat pada tahun 2017.

“Pendampingan langsung dari para ahli sangat membantu petani dalam menghadapi persoalan yang mengancam produksi tanaman. Pokoknya kalau petani dan akademisi bersatu, urusan pangan dan pertanian kita akan semakin kuat,” ungkapnya.

Koordinator mata kuliah Klinik Tanaman, Bonjok Istiaji, menambahkan bahwa Klinik Tanaman tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelayanan kepada petani, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman.

Melalui pendekatan problem based learning, mahasiswa terjun langsung ke lapangan untuk bertemu petani, mempelajari diagnosis masalah kesehatan tanaman, serta menyusun rekomendasi pengendalian yang tepat sesuai kondisi yang dihadapi.

“Dalam mata kuliah klinik tanaman, mahasiswa tidak lagi belajar teori di kelas, tetapi belajar langsung di lapangan untuk memahami persoalan nyata yang dihadapi petani dan mencari solusi berbasis ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Dengan hadirnya Mobil Klinik Tanaman Terpadu, IPB University berharap dapat semakin memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat tani, sekaligus mempercepat penyebaran inovasi dan solusi kesehatan tanaman demi mendukung pembangunan pertanian nasional.

 

Klinik Tanaman

departemen Proteksi Tanaman

Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor

CP: Efi Toding Tondok (0812 9198 3683)