Logo

Daftar Berita

Selamat kepada Aminudi Alumni PTN Angkatan 44 yang telah memenangkan Capital League Wirausaha Muda Mandiri 2021

Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian – IPB University mengucapkan selamat kepada Aminudi, S.P yang telah mendapatkan prestasi membanggakan pada perhelatan kompetisi wirausaha muda yang diselenggarakan secara nasional oleh Bank Mandiri, dengan berhasil mengalahkan 5.450 pelaku usaha muda yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, Aminudin menyabet gelar juara (Capital Champion). Sedangkan Syukriyatun Niamah, penyedia furniture berbahan dasar material daur ulang plastik dengan nama usaha Robries asal Surabaya menjadi juara 2 dan Alamsyah, penyedia sistem pelacakan mobil dan aset bergerak lainnya secara online dengan brand Fox Logger asal Jakarta menjadi juara 3.

Aminudi sendiri merupakan alumni Departemen Proteksi Tanaman angkatan 44 yang memiliki usaha dibidang pakan ternak yang memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) (Hermetia illucens) dengan brand Biomagg yang berbasis di Depok – Jawa Barat.

Di babak Grand Final Capital League Wirausaha Muda Mandiri, finalis mempresentasikan konsep usahanya dan menjawab pertanyaan dewan juri nasional yang berperan sebagai calon investor, yaitu Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Perdagangan M Lutfi, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, Anggota Wantimpres Putri Kuswisnuwardhani, dan Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi.

#DokterTanamanIPB #WMM #CapitalLegue #PTNkeren #IPBuniversity #Biomagg #WirausahaMudaMandiri

Dr. Suryo Wiyono Raih Anugerah Konservasi Alam 2021

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG — Dr. Suryo Wiyono, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) University, menerima penghargaan penting dari ajang Anugerah Konservasi Alam 2021.

Penghargaan yang diberikan kepada Suryo dilatari karena ikhtiar dan dedikasi tanpa lelah dalam mengembangan mikroba. Pengembangan dan penelitiannya itu juga memberikan manfaat secara langsung kepada para petani sekaligus memberi kontribusi signifikan dalam menekan penggunaan bahan kimiawi.

“Saya berharap dengan penemuan yang ada dari para peneliti, seperti mikroba, bisa menjadi jalan untuk menguatkan pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia,” kata Suryo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (25/11).

Akademisi asal Bojonegoro, Jawa Timur, ini menerima penghargaan berkat kiprahnya sejak 2018 dalam mengembangkan mikroba. Bahan alami ini dimanfaatkan Suryo untuk meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam penelitiannya, pria berusia 51 tahun ini menemukan dan mengembangkan tiga jenis mikroba bermanfaat yaitu PGPR – Plant Growth Promoting Rhizobacteria (Lysinibacillus fusiformis), cendawan patogen serangga untuk wereng (Hirsutella) dan bakteri antifrost. Ia mengaku salah satu mikroba PGPR ini merupakan hasil dari riset yang dilakukannya di Ciremai.

“Bersama Taman Nasional Gunung Ciremai, alhamdulillah, PGPR sudah diaplikasikan para petani  di 57 desa penyangga, yaitu Kuningan dan Majalengka. Aplikasi PGPR Ciremai dilakukan pada tanaman padi, ubijalar, timun, tomat, bawang merah, bawang putih, kacang Panjang, jahe, jagung, kopi dan cengkeh,” tutur penyandang gelar doktoral Phytomedicine dari Goettingen University, Jerman.

Para petani yang menggunakan PGPR Ciremai, kata Suryo, telah merasakan manfaat. Para petani yang menggunakan mikroba besutan Suryo ini sudah bisa mengurangi penggunaan pupuk sintetik hingga 50 persen.

Selain itu para petani juga sudah bisa menurunkan penggunaan pestisida sampai 100 persen. Semenatra pada sisi hasil, penggunaan mikroba ini mampu meningkatkan hasil 30-70 persen. 

“Dengan penggunaan mikroba ini para petani mendapat manfaat langsung sekaligus juga bisa berkontribusi menjaga kesimbangan alam. Dengan menggunakan mikroba ini penggunaan input kimia sintetis jadi terbatas. Jadi ekosistem lebih terjaga,” kata dia.

Penggunaan mikroba merupakan terobosan penting di tengah tantangan dunia pertanian yang ada saat ini seperti perubahan iklim. Menurut Suryo, teknologi microbial menjadi salah satu tumpuan pertanian ke depan untuk meningkatkan produksi sekaligus mengurangi ancaman perubah iklim.

“Di sinilah peran penting akademisi dan ilmuwan untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan,” ujar pria yang kini menjabat sebagai wakil dekan bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Pertanian IPB ini.

Suryo yang juga menjabat sebagai ketua umum Gerakan Petani Nusantara (GPN) menerima penghargaan bergengsi ini pada acara puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2021 di Taman Wisata Alam Teluk Kupang, NTT Rabu (24/11).

Sumber: Republika.co.id

#DokterTanamanIPB #HKAN #PTNkeren #IPBuniversity #KLHK #biopropek

Dr. Bonny P.W. Soekarno Bahas Pentingnya Mengetahui Mutu Benih dan Patogen Terbawa Benih Sebagai Kriteria Mutu Benih

Dr Bonny P W Soekarno, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman memberikan penjelasan dalam menentukan mutu benih yang bersertifikat. Ia menegaskan, terkait benih, harus berbicara dalam jangka panjang.

“Pemilihannya harus berdasarkan pada kualitas bibit, bebet, bobot benih karena menentukan generasi tanaman selanjutnya. Generasi benih yang baik penting untuk menjamin keamanan sumber pangan,” kata Dr Bonny.

Dosen IPB University itu mengatakan, mutu benih dan patogen terbawa benih sudah menjadi kriteria dalam penjaminan mutu benih. Ia menyebut, benih sebagai komoditas penting perdagangan internasional berpotensi membawa semua komponen termasuk pathogen.

“Sebagai salah satu komponen utama sarana produksi tanaman, benih merupakan struktur tanaman yang digunakan untuk perbanyakan, bersifat pembawa dan tempat bertahan patogen penyebab penyakit tanaman,” ujar Dr Bonny.

Dengan demikian, katanya, harus terbebas dari pathogen yang terbawa. Hal ini karena sebarannya dapat melewati batas alam. Oleh karena itu, Dr Bonny menyebut, peran lembaga karantina menjadi sangat krusial baik dalam membatasi, mengawasi, dan mengedukasi petani dalam pemilihan dan penggunaan benih.

Dr Bonny juga menyebut, risiko perdagangan benih juga berimplikasi pada perubahan biodiversitas yang tidak terasa. “Ancaman terberat dari perdagangan benih internasional ini yaitu ancaman tekanan keamanan pangan karena kita tidak tahu penyakit yang terdeteksi dan tidak tertangani menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan,” katanya dalam Webinar ProPakTani yang diselenggarkaan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, (12/11).

Lebih lanjut, Dr Bonny menjelaskan, benih merupakan suatu miniatur ekosistem yang sangat kompleks. Sehingga, tidak boleh dianggap remeh dalam proses pengemasan dan penyimpanan. Pasalnya, benih dapat menjadi sarana potensial dan efektif penyebaran penyakit.

“Kerusakan dan kerugian akibat pathogen terbawa benih terasa sangat nyata. Contohnya dapat menyebabkan terjadi penurunan daya kecambah dan vigor bibit,” kata Dr Bonny.

Terkait penyimpanan, ia menyarankan perlu memperhatikan kadar air karena Indonesia merupakan negara tropis. Tidak hanya itu, perlu adanya edukasi oleh pendamping benih untuk berbagai perkiraan di lapangan. Ia juga menyebut bahwa identifikasi awal infeksi juga harus diupayakan dengan didukung oleh sumberdaya manusia dan peralatan yang baik.

“Perlu dilakukan upaya eliminasi pathogen terbawa benih sejak benih diproduksi di lapangan. Kita terkadang lupa, kapan menghindarkan kemungkinan terjadinya infeksi pathogen,” pungkasnya. (MW-IPB News).

Sumber: IPB News

#DokterTanamanIPB #Webinar #PTNkeren #IPBuniversity #PatogenBenih

Dosen Muda IPB University Jadi Dosen Tamu di Unpad, Paparkan Konservasi Serangga Bermanfaat

Nadzirum Mubin, SP, MSi Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman menjadi Guest Lecture di Universitas Padjajaran, (13/11). Dalam kesempatan ini Nadzir menjelaskan tentang konservasi serangga bermanfaat untuk memberikan dukungan pertanian yang berkelanjutan.

“Lebah yang merupakan salah satu serangga bermanfaat yang upaya konservasinya masih sangat minim dilakukan, khususnya pada lebah soliter. Lebah merupakan serangga yang mendominasi dalam membantu proses penyerbukan pada tiga per empat tanaman yang di daratan ini. Peranan lebah yang begitu besar ternyata belum sebanding dalam upaya pelestariannya,” jelasnya.

Menurutnya lebah yang selama ini dikenal adalah kelompok lebah sosial yaitu lebah madu yang memiliki sengat. Sehingga masyarakat enggan untuk memelihara karena kekhawatiran dalam keamanan dan kesulitan dalam proses pemeliharannya.

“Namun beberapa tahun ini, perkembangan dunia lebah sangat masif dan salah satunya yaitu pengembangan lebah tanpa sengat (stingless bee). Lebah tanpa sengat memiliki peranan dan produk yang sama seperti halnya lebah madu yang bersengat. Yaitu sebagai pollinator serta menghasilkan madu, bee pollen, dan propolis,” imbuhnya.

Akan tetapi, lanjutnya, informasi tentang lebah tanpa sengat yang berpotensi untuk dikembangkan di rumah-rumah baik di desa ataupun di perkotaan belum banyak diketahui. Bahkan diketahui banyak lebah-lebah tak bersengat ini berada pada sarang-sarang yang tidak layak.

“Sangat ironis ketika lebah memberikan bantuan dalam hal penyerbukan tetapi sarangnya hanya seadanya seperti di pot bunga, bambu bekas, kusen kayu dan sebagainya. Sebagai upaya pelestariannya, salah satunya dilakukan dengan cara memindahkan sarang yang tidak layak tersebut ke sarang yang lebih layak seperti di kotak kayu,” tutur Nadzir yang merupakan Young Scientist PEI 2021.

Nadzir juga menjelaskan bahwa dalam upaya konservasi tidak hanya sekedar memindahkan ke sarang yang lebih layak, tetapi penyediaan sumber pakan juga salah satu upaya konservasi.

“Karena ketika lebah menunggu adanya musim bunga pada tanaman pangan maupun hortikultura, membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan kebutuhan akan nectar dan pollen dibutuhkan lebah setiap hari. Sehingga membuat semacam kebun bunga sederhana memberikan bantuan kepada lebah untuk menjaga tetap berada di sekitar lingkungan kita,” tuturnya.

 Ia menambahkan bahwa nilai tambah lainnya adalah untuk agro-edutourism. Yakni wisata berbasis pertanian yang dikelilingi tanaman pertanian maupun perkebunan serta lebah tanpa sengat disekitarnya.

“Lebah tanpa sengat sangat aman (friendly) sehingga anak-anak pun bisa melihat dan belajar dengan sangat dekat. Bahkan orang-orang bisa melakukan prosesi meminum madu dari sarangnya langsung tanpa takut disengat,” tambahnya. (**/Zul-IPB News)

Sumber: IPB News

#DokterTanamanIPB #Webinar #PTNkeren #IPBuniversity #DosenMuda