Logo

Daftar Berita

Liputan Majalah Trubus: Jasa Besar Makhluk Liliput

Senyum menghias wajah Nasir karena memanen tomat hingga 15 kali. Sebelumnya panen tomat di kebun Nasir hanya 7—10 kali. Total produksi pun melonjak hingga 5 kg, semula hanya 4 kg per tanaman. Tentu saja keuntungan petani di Desa Bandorasa Kulon, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu pun bertambah. Selain itu Nasir memanen sayuran daun seperti caisim 3 hari lebih cepat, yakni pada hari ke-37 setelah tanam. Cabai lokal milik Nasir juga bertahan hingga 3—5 tahun dari semula 1 tahun.

Bahkan, hama kutu putih pada padi teratasi 15 hari setelah perlakuan dengan ramuan tertentu. Itu tergolong cepat. Perlu 30 hari menanggulangi hama itu jika menggunakan insektisida pabrikan. Kadang-kadang penggunaan insektisida menyebabkan padi malah mati. Nasir memang membudidayakan aneka tanaman pangan, sayuran, dan buah di lahan hampir 1 hektare. “Saya senang dengan hasil panen itu,” kata petani yang mengelola lahan sendiri sejak 2015 itu.

Apa rahasia Nasir sehingga mendapatkan semua keistimewaan itu? Ia mengandalkan pupuk berisi bakteri pemacu pertumbuhan tanaman atau plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR). Nasir mencampur 2—3 sendok makan PGPR bubuk dengan 3 kg singkong kukus, 1,5 liter tetes tebu, 2 kg gula merah, dan 30 l air di sebuah wadah. Ia mengaduk rata, dan menutup wadah. Fermentasi berjalan sukses jika larutan itu menguarkan aroma harum pada hari ke-3.

Petani berusia lebih dari 40 tahun itu lalu menyaring hasil fementasi sebagai larutan biang berwarna kecokelatan. Nasir melarutkan sekitar 240 ml larutan biang ke dalam 17 l air bersih dan menyemprotkan ke sekujur tanaman. Cara itulah yang membuat frekuensi panen tomat melonjak hingga 15 kali, panen caisim lebih cepat, dan tanaman cabai bertahan hingga 5 tahun. Kelebihan lain menggunakan PGPR yakni mengurangi ongkos produksi hingga 40% dan tanah lebih subur.

Semula Nasir membeli 500 kg pupuk kimia sintetis setiap tahun. Kini ia hanya memerlukan 100 kg pupuk kimia sintetis saban tahun. “Saya bisa menghemat Rp10 juta per tahun,” kata pria kelahiran Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu. PGPR yang dipakai Nasir spesial karena berasal dari kawasan hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kebun yang dikelola Nasir berlokasi di sekitar TNGC.

PGPR asal Gunung Ciremai itu merupakan hasil eksplorasi sumberdaya biologi oleh Balai TNGC dan Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut dosen di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB, Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr., C-71 merupakan isolat bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bakteri itu mampu meningkatkan panjang akar bibit tomat 42,35% dan meningkatkan daya kecambah tomat 178%.

Isolat itu pun membuat tomat lebih tahan penyakit bercak daun. Faedah lain isolat yang berasal dari tanah perakaran bambu itu juga meningkatkan pertumbuhan panjang akar, tinggi tanaman, dan panjang daun bibit cabai rawit dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menggunakan pupuk kimia buatan. Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di TNGC, Asep Uus Susanto, S.Hut., mengatakan, uji coba formula PGPR melibatkan masyarakat di desa-desa penyangga TNGC seperti kebun milik Nasir.

Eksplorasi mikrob dilakukan agar pengelolaan pertanian di sekitar TNGC lebih ramah lingkungan. Harap mafhum pada 2016 ada burung elang jawa penghuni TNGC yang mati. “Diduga burung itu memakan pakan dari luar kawasan. Jenis pakan mungkin ular atau jenis lain,” kata Uus. Sebelumnya praktik pertanian di sekitar TNGC lebih mengandalkan pupuk dan pestisida kimia sintetis.

Guru besar IPB bidang ilmu tanah dan sumberdaya lahan di Fakultas Pertanian (Faperta), IPB, Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santoso, M.S., mengatakan, sistem pertanian kita cenderung mengerucut pada penggunaan produk kimia sintetis. Dampaknya kehidupan dan keragaman mikrob dalam tanah makin lama makin tertekan akibat asupan produk sintetis yang begitu masif.

Percuma memberikan pupuk jika keragaman mikrob dalam tanah sangat sedikit. Misal penggunaan Urea. Tanaman tidak bisa menyerap Urea dalam bentuk urea. Urea harus dipecah oleh mikroorganisme menjadi amonium sehingga bisa diserap tanaman. Jika populasi dan keragaman mikrob dalam tanah menurun drastis, maka berefek pada pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, saat ini pemakaian mikrob perangsang tumbuh tanaman relatif masif.

“Tanpa kita menjaga keragaman mikrob itu, risiko untuk keberlanjutan pertanian masa depan cukup besar,” kata doktor alumnus Faculty of Life Sciences, Technische Universitaet. Braunscweig, Jerman, itu. Selain PGPR, tim peneliti juga menemukan mikrob kelompok patogen serangga dan kandidat antiembun beku (antifrost) di TNGC. Mikrob kelompok patogen serangga khususnya wereng dan kutu-kutuan berupa cendawan Hirsutella sp. dan Lecanicillium sp. Adapun kandidat antifrost yaitu isolat PGMJ asal melanding gunung Paraserianthes montana dan A1 dari anggrek Vanda sp.

Menurut Suryo penemuan mikrob alami kandidat antifrost itu merupakan hal baru di Indonesia. Sebetulnya mikroorganisme antifrost sudah dikomersialkan di Amerika Serikat. Namun, mikrob yang digunakan termasuk organisme termodifikasi secara genetika atau genetically modified organism (GMO). Hasil pengujian di lapangan mengungkapkan mikrob kandidat antifrost mampu menekan kerusakan karena frost sekitar 60% pada suhu minus 5 - 9 ºC.

“Plasma nutfah mikrob kita luar biasa. Manfaat mikrob sangat banyak. Kita belum memanfaatkan secara optimal apalagi masif,” kata doktor bidang Patologi dan Proteksi Tanaman alumnus The University of Göttingen, Jerman, itu. Peran mikrob lain di bidang pertanian yakni pengendali hama dan penyakit, dekomposer, serta membuat tanaman menjadi adaptif pada stres abiotik seperti kekeringan. Yang paling baru ada khamir (yeast) untuk memperpanjang masa simpan buah. Caranya mikrob itu mengurangi produksi etilen yang berperan mematangkan buah.

Andreas mengatakan, pemanfaatan mikrob untuk pertanian seperti PGPR termasuk bioteknologi secara umum. Bioteknologi merupakan pemanfaatan organisme dan gennya untuk memproduksi barang dan jasa. Perkembangan pemanfaatan mikrob untuk pertumbuhan tanaman cukup pesat. Petani kecil sudah menerapkan bioteknologi dengan membuat mikroorganisme lokal (mol).

“Kunci dan potensi bioteknologi itu sebenarnya ada pada mikroorganisme karena keanekaragaman hayati yang luar biasa tinggi. Mikrob itu utama dalam bioteknologi. Hanya saja sangat jarang yang serius untuk mengonservasi mikrob itu. kata Andreas yang juga menjabat Kepala Biotech Center IPB. Gen tanaman transgenik pun dari bakteri Bacillus thuringiensis. Hampir semua produksi enzim saat ini berasal dari mikrob transgenik.

Mikroorganisme tidak hanya berguna untuk bidang pertanian. Xanthan gum dan pullulan merupakan produk dari mikroorganisme di bidang industri. Bakteri Xanthomonas campestris menghasilkan xanthan gum secara alami. Penggunaan polisakarida itu antara lain sebagai bahan penstabil (stabilizer) minuman. Sementara pullulan merupakan hasil metabolit Aureobasidium pullulan. Pemanfaatan pullulan antara lain sebagai pengganti pati pada industri makanan.

Andreas menuturkan, “Potensi mikrob memang luar biasa.” Ada bakteri Streptomycetes sp. di Oregon State University, Amerika Serikat, yang menghasilkan antibiotik untuk antikanker tertinggi. Bahkan, ada antibiotik streptomisin yang asal bakterinya berasal dari tanah di Jakarta berdasarkan paten yang dilihat Andreas. Ia juga pernah mengisolasi bakteri di Indonesia untuk menghasilkan energi listrik.

Keanekaragaman mikrob di Indonesia yang terkaya di dunia. Sesungguhnya hingga kini belum terjawab berapa jumlah spesies mikrob di seluruh dunia. Yang tercantum saat ini sangat sedikit. Sayangnya potensi mikrob yang luar biasa itu belum tergali maksimal. Bahkan, mungkin beberapa mikrob bisa punah sebelum diidentifikasi dan diketahui potensinya. Manajer Indonesian Culture Collection (InaCC), Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Iwan Saskiawan, mengatakan kebakaran hutan dan penebangan liar bisa memicu punahnya suatu jenis mikroorganisme.

Hasil penelitian tim peneliti jamur makro Puslit Biologi LIPI menunjukkan jenis jamur makroskopis di Kebun Raya Bogor menurun dari tahun ke tahun. Itu bisa diindikasikan terjadi perubahan iklim. Apakah kelembapan kurang atau suhu yang meningkat. Musababnya ada jamur jenis tertentu yang tumbuh pada suhu dan kelembapan tertentu. Bisa dibilang jamur itu berperan sebagai bioindikator. Selain pemanfaatan mikrob, peningkatan produksi tanaman dilakukan dengan teknik rekayasa genetika.
Dengan kata lain ada pemindahan gen dari satu spesies ke spesies lain. Metode itu masih menimbulkan pro dan kontra di Indonesia. Terutama berkaitan dengan efek jangka panjang produk rekayasa genetika dalam tubuh.

Sebetulnya perakitan tanaman transgenik di Indonesia cukup banyak. Kendalanya pada hak cipta lantaran banyak metode dan tools yang dipatenkan perusahaan besar multinasional. Direktur Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC), Prof. drh. Bambang Purwantara, M.Sc., Ph. D., mengatakan, keunggulan tanaman bioteknologi antara lain meningkatkan produktivitas, mengurangi ongkos produksi, dan membuat harga makanan lebih terjangkau.

Kelebihan tanaman bioteknologi lainnya yakni mencegah deforestasi dan menjaga biodiversitas. Bambang menuturkan, kedelai, jagung, kapas, kanola, dan alfalfa merupakan tanaman bioteknologi yang banyak ditanam pada 2019. Negara yang paling banyak menanam tanaman bioteknologi yaitu Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Brasil, dan India. Menurut Andreas perkembangan riset terkini tidak harus transfer gen asing antarspesies.

“Ada pendekatan yang kita kenal dengan gene silencing dan gene editing,” kata Ketua Pembina Yayasan Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) itu. Contoh pembungkaman gen (gene silencing) yakni menonaktifkan gen yang mungkin menggangu pertumbuhan tanaman atau menurunkan produksi. Sementara membuat gen yang berperan memacu pertumbuhan lebih aktif lagi termasuk upaya penyuntingan gen (gen editing).

Penyuntingan gen untuk meningkatkan produksi tanaman dan agar tanaman tahan cekaman lingkungan. Menurut Andreas pembungkaman dan penyuntingan gen terjadi dalam tanaman itu sendiri. Artinya kita mengelola gen yang ada dalam tanaman itu. Tidak ada transfer gen ke speies lain seperti pada GMO. Iwan mengatakan, “Pada Harteknas 2020 Menristek Bambang Brojonegoro menekankan kepada peneliti untuk memperhatikan biodiversitas mikroorganisme karena berperan penting pada kehidupan manusia di masa depan.”

Artinya pemerintah mulai melirik potensi besar kekayaan mikroorganisme Indonesia. Meski begitu Suryo mengatakan, ada beberapa hal yang mesti dilakukan untuk pengembangan mikroorganisme seperti peta jalan (road map) riset mikrob secara nasional. Setelah selesai, formulasi riset itu dipatenkan. Selain itu, perlu adanya sinergi antara peneliti, pihak swasta, dan masyarakat. Menurut Andreas harus ada political will yang kuat terkait riset-riset mikroorganisme agar pemanfaatannya maksimal. (Riefza Vebriansyah)

Kunjungi link berikut untuk artikel yang berada di Majalah Trubus: Jasa Besar Makhluk Liliput

HIMASITA IPB Menggelar Kajian Keprofesian Menanggapi Serangan Hama Wereng Batang Coklat

Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) IPB menggelar kegiatan Kajian Keprofesian 1 dengan tema Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021. Kegitan ini merupakan program kerja Divisi Keprofesian HIMASITA dan diselenggarakan sebanyak dua kali, Kajian Keprofesian 1 diselenggarakan pada hari Sabtu, 27 Maret 2021 yang dihadiri oleh  99 orang  mahasiswa IPB University, 27 orang mahasiswa Universitas Sriwijaya, 8 orang mahasiswa Universitas Lampung, 1 orang mahasiswa Universitas Hasanuddin, 1 orang dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan dan 11 orang dari Umum.

Pembicara yang hadir dalam kegiatan Kajian Keprofesian 1 :  Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021 yaitu Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M. Sc, Anik Wiati S.P., dan Bayu Aji Krisandi. Dr. Ir. Hermanu Triwidodo Beliau merupakan Dosen Ahli Hama WBC Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanain, IPB University. Anik Wiati S.P. merupakan alumni Proteksi Tanaman angkatan 48 dan Praktisi lapangan. Bayu Aji Krisandi merupakan mahasiswa Proteksi Tanaman angkatan 53 dan Menteri Koordinator Bidang Pelayanan dan Pengadian BEM KM IPB tahun 2019/2020.

Kegiatan dibuka dengan meriah oleh MC yaitu Sri Roro Aminah Adiningtyas mahasiswa PTN 55 dan Richo Deo Arizona mahasiswa PTN 56 kemudian dilanjutkan Pembacaan Tilawah oleh Vito Montana mahasiswa PTN 56 selanjutnya Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne IPB. Penyampaian Laporan Ketua Himasita dilanjutkan Sambutan oleh Bapak Dr. Ir. Ali Nurmansyah, M.Si selaku Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB kemudian Pemaparan Kegiatan oleh divisi Keprofesian. Acara dilanjutkan oleh Moderator yaitu Pahmi Idris mahasiswa Proteksi Tanaman angkatan 54. Acara pertama dimulai dengan pemaparan materi oleh Ibu Anik Wiati, S.P mengenai Ancaman WBC pada Penurunan Produktivitas Tanaman Padi di Daerah Tuban. Beliau menyampaikan bahwa pada wal tahun 2021 di daerahnya yaitu kecamatan Senori kabupaten Tuban, dihebohkan oleh serangan wereng batang coklat yang terjadi di bulan Januari - Februari, kenapa bisa heboh ? Hal ini dikarenakan padi yang terserang usianya mencapai  90 HST. Padi sudah mulai mengisi dan petani tinggal memanen, akan tetapi padi mengalami gejala seperti terbakar, layu, berwarna coklat, dan kering. Petani hanya membiarkan dan tidak melakukan pengendalian karena tanaman sudah tua. Dari beberapa gambar yang telah diamati, ada 4 poin yang dapat disimpulkan yaitu 1) gejala WBC terberat  terjadi pada padi jenis ketan 2) serangan WBC didaerah saya hanya terjadi pada sawah tipe tadah hujan 3) serangan wbc hanya terjadi pada padi yang ditanam lebih awal 4) Di petakan saya sendiri dengan tipe sawah tadah hujan, tapi tidak terjadi serangan wbc karena dari awal seperti perlakuan benih menggunakan PGPR, yang kedua pemeraman kami berikan Lecafit, setelah itu dipersemaian kami tetap semprot dengan Lecafit dan Beuveria sp. yang berfungsi untuk menjaga kesehatan tanaman. Diakhir sesi beliau berharap dapat mendapatkan solusi untuk mengatasi hama WBC.

Acara kedua dilanjutkan pemaparan materi oleh Bayu Aji Krisandi dengan pembahasan Ancaman WBC pada penurunan produktivitas di daerah Tuban. eliau sebagai pemantik dalam Kajian Keprofesian 1 membahas mengenai tragedi serangan hama wereng di Desa Purwabakti, Kabupaten Bogor dan mempresentasikan kondisi serangan di lapang dan berdasarkan hasil pengamatan dilapang varietas tier kebo merupakan varietas yang disukai oleh WBC di bandingkan dengan varietas Inpari 30. Hal ini diduga karena adanya kondisi lingkungan didaerah persawahan yang mendukung perkembangan serangan wereng batang cokelat. Beliau menjelaskan tentang ancaman WBC pada penurunan produktivitas tanaman padi di daerah Bogor. Acara ketiga pemaparan materi mengenai Pencegahan dan Antisipasi Serangan Hama WBC pada Tanaman Padi. Pak Hermanu membuka dengan pesan beliau bahwa Lalai Blai Sembara Cilaka (Lupa membawa bencana gegabah menuai musibah). Ledakan hama wereng batang coklat meningkat apabila pengendalian yang dilakukan di lapangan banyak menggunakan pestisida sintetik, pencegahan hama wereng yang di rekomendasikan oleh pak hermanu yaitu mengembalikan jerami ke sawah, menghindari penggunaan pestisida, tidak menanam varietas yang berasal dari mancanegara karena tidak tahan terhadap hama dan penyakit  tanaman di Indonesia. Pemaparan materi di lanjutkan dengan membahas prediksi serangan wereng batang coklat dan di lanjutkan dengan diskusi aktif oleh peserta. Pertanyaan pertama membahas mengenai hama Wereng Batang Cokelat yang dapat diidentifikasi dengan sidik jari molekuler karena kemungkinan telah membentuk suku-suku di daerah yang berbeda. Kejadian serangan WBC ini terjadi di awal tahun 2021 sehingga petani kaget atas terjadinya fenomena ini. Pertanyaan kedua membahas bahwa hama WBC ini dalam beberapa saat bisa saja hilang. Hilangnya hama WBC dapat disebabkan terbang berpindah ke daerah lain mencari sumber makanan baru yaitu padi stadia vegetative karena serangga ini dapat terbang hingga sejauh 30 km namun juga sering terbawa angin. Cara mengindari hama wereng dengan menerapkan jarak tanam 30 menjadi 40. Pertanyaan ketiga disebutkan oleh Ibu Siti Herlinda bahwa di daerah Rawalebak tidak pernah terserang hama WBC hal ini karena kurang mampunya petani untuk membeli insektisida sintetik sehingga potensi ledakan hama cenderung tidak ada, berbeda dengan di daerah Banyuasin dengan penggunaan insektisida sintetik dengan intensitas tinggi malah membuat predator dan musuk alami yang mati. Pertanyaan keempat dibahas oleh Bapak Ali Nurmansyah bahwa untuk membangun early system warning membutuhkan data beberapa waktu sebelumnya. Harus diamati populasi WBC, varietas padi, kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban), keadaan musuh alami, lingkungan di sekitar pertanaman padi, jarak tanaman dan intensitas penyemprotan insektsida. Hal tersebut dapat membantu prediksi hama dan tingkat serangannya. Data serangan harus dilengkapi dengan luas serangan. Sehingga untuk membangun early system warning belum cukup bisa karena data tidak lengkap. Sehingga diharapkan mahasiswa dapat mencatat data selengkap mungkin. Setelah sesi tanya jawab kemudian didapatkan kesimpulan yang di sampaikan oleh moderator bahwa serangan wereng batang coklat semakin ganas. Varietas yang digunakan dan sistem aliran irigasi mempengaruhi tingkat serangan wereng batang coklat. Padi yang diserang oleh wereng batang coklat umumnya berunur 50 HST. Pemberian insektisida secara tidak cerdas dapat membantu perkembangan wereng batang coklat menjadi lebih pesat bahkan menjadi momok menakutkan bagi para petani. Setelah sesi tanya jawab kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada pembicara dan dokumentasi seluruh peserta yang hadir. Acara ditutup dengan pembacaan tilawah yang disampaikan oleh Rizki Setiawan mahasiswa PTN 56 dan diakhiri salam oleh MC.

Kegiatan Webinar Kajian Kerofesian 1 : Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021  mendapatkan respon baik dari peserta. Peserta terlihat antusias selama mengikuti kegiatan webinar. Melalui kegiatan Webinar Kajian Kerofesian 1 : Puncak Serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) 2021  kami berharap peserta dapat meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap pentingnya kesehatan tanaman, meningkatkan pengetahuan mengenai upaya pencegahan penyakit yang harus dilakukan secara tepat dan berkelanjutan dari aspek pertanian dan aspek ekonomi, dan dapat menjadi wadah untuk menyalurkan ide dan pemikiran akan pentingnya kesehatan tanaman di Indonesia dan pencegahan penyebaran hama dan penyakit tanaman melalui globalisasi perdagangan. 

Purnabakti Bpk. Dadang Surachman

Bpk. Dadang Surachman merupakan tenaga kependidikan Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian - IPB University. Beliau telah mengabdikan dirinya selama 32 tahun sebagai tenaga kependidikan, selama mengabdi Pak Dadang menempati beberapa posisi, diawali dengan menjadi staf kepegawaian di Dekanat Fakultas Pertanian, kemudian beralih staf laboran di Departemen Proteksi tanaman, kemudian menjadi staf kepegawaian di PTN dan terkhir mengemban tugas sebagai staf pelaksana kebun di PTN, setlah 32 tahun mengabdi Pak dadang dianugrahi tiga penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun.1 Juni 2020 Pak Dadang sudah menjalani masa purnabakti, karena adanya pandemi Covid-19 acara purnabakti baru dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2021 secara daring.

Dalam acara tersebut kami menyampaikan beberapa video persembahan untuk Pak Dadang, diantaranya seperti berikut: 

Ahli Penyakit dari PTN Menanggapi Masalah Padi Rawa

Tabloid Agrina Edisi Februari 2021 mengangkat artikel mengenai momok pada padi rawa, didalam artikel tersebut memuat banyak keluhan petani terkait masalah-masalah yang timbul dari penyakit yang menyerang tanaman padi, khususnya padi rawa. Penyakit-penyakit yang menyerang memang penyakit yang selama ini menjadi momok para petani padi diantaranya yaitu blas leher yang disebabkan oleh Pyricularia grisea dan hawar daun yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pt oryzae.  Salah satu staf dosen Departemen Proteksi Tanaman, Dr. Widodo adalah ahli penyakit tanaman memberikan tanggapannya terkait serangan penyakit padi ini, merujuk artikel yang dikeluarkan di Tabloid Agrina “Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya serangan penyakit, yaitu ketahanan varietas, patogen, dan lingkungan (termasuk alam dan cara budi daya)” kata Dr. Widodo.

Dr. Widodo menjelaskan cendawan pathogen P. grisea memiliki 39 strain. “Di negara dengan empat musim, sekali tanam, terus datanglah musim dingin, selesai. Di negara tropis, pathogen ini selalu berinteraksi dengan tanaman inangnya sehingga selalu berubah. Jadi kita tidak bisa hanya mengandalkan varietas tahan. Produktivitas tinggi adalah salah satu yang penting. Tapi hubungannya dengan penyakit terus memperhatikan cuaca dan Budidaya”.

Artikel lengkapnya bisa dibaca pada majalah Agrina pada link berikut: Agrina Edisi Februari 2021