Logo

Daftar Berita

Begini Cara Mengatasi Rumah Diganggu Tikus Menurut Ahli IPB, Gampang Dilakukan!

JURNAL MEDAN - Anda memiliki masalah dengan tikus yang berkeliaran di rumah?, tenang ini ada solusi dari Dr. Swastiko Priyambodo selaku Ahli tikus dari IPB (Institut Pertanian Bogor).

Menurut Swastiko, tikus adalah salah satu hewan yang 'menguasai' permukaan bumi karena jumlahnya yang sangat banyak.

Swastiko mengatakan, hewan yang memiliki nama latin Rodentia adalah jenis ordo terbesar dan mencakup 40 persen  jumlah spesies terbanyak.

Tak heran, jika tikus saat menjadi salah satu hewan hama yang paling sering bersarang di rumah atau gorong-gorong dan mengganggu kenyamanan, karena kerap merusak perabotan rumah.

Meski begitu, kata Swastiko, hanya sembilan spesies tikus saja yang menjadi hama. Dari sembilan spesies tersebut, hanya Rattus norvegicus (tikus riul), Rattus rattus diardii (tikus rumah) dan Mus musculus (mencit rumah) yang bersifat kosmopolit (dapat hidup dan berkembang di seluruh dunia).

“Tiga tikus inilah yang sering kita jumpai di rumah dan sering mengganggu aktivitas kita di rumah,” papar Swastiko dirangkum dari laman IPB dikutip Jurnal Medan, Senin, 7 Juni 2021.

Sebagai langkah awal pengendalian tikus, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman itu menyarankan untuk melakukan inspeksi tanda kehadiran tikus di rumah.

Inspeksi tersebut, kata dia, dapat dilakukan mulai dari melihat feses atau kotoran, kerusakan yang ditimbulkan, sarang tikus, suara tikus, jejak kaki dan ekor tikus, tanda atau noda olesan, jalan tikus, serta urin dan ekskresi bau baik yang hidup maupun yang sudah mati.

Sementara pengendalian tikus, lanjut dia, dapat dilakukan dengan berbagai metode.

Di area rumah atau permukiman, Swastiko mengandalkan teknik sanitasi, fisik-mekanis dan kimiawi untuk mengendalikan tikus.

1. Tidak menumpuk sampah makanan

Kegiatan sanitasi, kata dia, dapat dilakukan dengan membersihkan berbagai macam pemicu munculnya tikus terutama sumber daya tikus. Sumber daya tikus itu adalah makanan dan sarang yang menjadi komponen utama, karena tikus akan menghuni suatu habitat karena di habitat tersebut tersedia makanan dan sarang.

“Kalau pengendalian mekanis, yang efektif kita terapkan adalah mencegah tikus supaya tidak masuk ke dalam bangunan. Dengan cara menutup rapat celah-celah yang ada di bangunan dengan bahan yang kuat yang tidak dapat digerogoti tikus terutama bahan logam,” jelas Swastiko.

2. Gelombang elektromagnetik

Cara lainnya adalah dengan mengusir tikus menggunakan gelombang elektromagnetik, suara ultrasonik. Metode pengusiran menggunakan suara ultrasonik, kata Swastiko, dapat memanfaatkan suara jangkrik.

“Kalau menggunakan suara, tikus akan berusaha mencari sumber suara dan berusaha supaya suara tersebut tidak berbunyi lagi, sementara kalau menggunakan bahan rempah, tingkat efektivitasnya belum sampai 100 persen dan baru bisa mengusir tikus untuk sementara waktu saja,” terangnya.

3. Gunakan rempah

Sementara bahan rempah yang dapat digunakan untuk mengusir tikus antara lain seperti bawang putih, merica, cabai rawit, dan bintaro.

4. Kimiawi

Adapun untuk pengendalian kimiawi, penggunaan rodentisida (bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat) dinilai lebih efektif.

5. Perangkap

Penggunaan perangkap, lanjut Swastiko, cara ini cukup efektif digunakan untuk mengendalikan tikus, mulai dari perangkap hidup (life trap) maupun perangkap mati (dead trap).

Saat akan digunakan ulang, perangkap dapat dicuci menggunakan sabun, air panas maupun air cucian beras untuk menghilangkan bekas feromon sehingga tidak dicurigai oleh tikus lain.

Perangkap perlu menggunakan umpan yang menarik bagi tikus seperti kelapa bakar, selai kacang maupun makanan yang tinggi protein seperti daging.

Perangkap tersebut dapat diletakkan pada tempat yang bervariasi dan tidak hanya berfokus pada satu tempat saja. Perangkap bisa diletakkan jalur tikus maupun tempat yang menarik bagi tikus.***

Artikel oleh:

Dedi Hidayat (JURNAL MEDAN)

 

#DokterTanaman #DokterTanamanIPB #Tikus #urbanpest

Dokter Tanaman IPB Sambangi Petani Subang, Mencari Solusi Hama Penggerek Batang dan Salinitas Padi

Subang, Villagerspost.com – Dokter Tanaman IPB University, Dr. Suryo Wiyono kembali melakukan blusukan ke daerah-daerah, menyapa para petani dan mencari solusi masalah pertanian. Kali ini, Suryo, mengunjungi para petani di Blanakan, Subang, Jawa Barat.

Di kawasan ini, Suryo berdiskusi dengan 15 orang perwakilan petani dari berbagai desa di kecamatan tersebut. Salah satu yang menjadi topik pembahasan adalah masalah serangan hama pengerek batang dan salinitas atau kadar garam tanaman padi.

Salinitas menjadi permasalahan karena persawahan daerah Blanakan terletak di kawasan pantai utara Subang. “Karena lokasinya tersebut tersebut petani padi menghadapi masalah kadar garam tinggi atau salinitas,” kata Suryo.

Selain itu di daerah tersebut, serangan penggerek batang sering membuat petani merugi karena kehilangan hasil cukup besar. Menurut petani Blanakan, serangan penggerek batang dan salinitas lebih berat pada musim gadu atau musim kemarau.

Dalam diskusi yang dipandu Kepala UPTD Pertanian Blanakan Mad Anwar, SP itu, Suryo memaparkan berbagai hal untuk mengatasi kedua masalah tersebut. Salah satunya adalah dengan cara mempelajari perilaku, biologi dan strategi dari hama penggerek batang.

“Salah satu cara mengatasinya adalah dengan melakukan pengumpulan telur hama penggerek batang di persemaian dan melakukan bioimunisasi,” terang Suryo.

Bioimunisasi ini merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan IPB dan akan diterapkan oleh petani Blanakan. “Bioimunisasi merupakan peningkatan ketahanan padi terhadap serangan hama atau pathogen dengan, salah satunya dengan perlakuan cendawan endofit,” papar Suryo.

Untuk mengatasi masalah salinitas, Dokter Tanaman yang juga merupakan Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara itu mengatakan pihaknya juga akan melakukan uji bersama teknologi terbaru berbasis mikrobiologis yang dikembangkan IPB.

“IPB telah mengembangkan bakteri anti salinitas. Bakteri tersebut adalah strain khusus dari Bacillus yang telah diteliti dan diuji di laboratorium. Kedua teknologi tersebut diujicobakan pada lahan seluas 10 hektare,” ujar Suryo.

Editor: M. Agung Riyadi

 

#DokterTanaman #DokterTanamanIPB #HamaPenggerekBatangPadi #Subang #SalinitasPadi

Seri Dokter Tanaman IPB: Mengatasi Penyakit Blas pada Padi

Penyakit blas padi, selama 10 tahun terakhir menjadi masalah penting di padi sawah, Sebelumnya penyakit ini lebih banyak menyerang padi gogo. Gejala yang muncul bisa di pesemaian, tanaman muda maupun tanaman bermalai. Pada tanaman muda , atau pesemaian tampak bercak bercak yang khas adalah berbentuk belah ketupat.  Namun seringkali gejala penyakitnya tidak khas belah ketupat.  Bercak, maupun fleck kelabu bias juga terjadi.

Penyakit disebabkan cendawan Pyricularia oryzae. Patogen bisa berasal dari benih, sisa tanaman sakit maupun rumput rumputan di sekitar tanaman. Secara umum cendawan patogennya tidak bisa bertahan lama dalam tanah, dan tidak bisa bersaing secara saprofitik dengan mikrob lain.

Penularan oleh angin.  Faktor yang pemempengaruhi yaitu varietas, kekurangan Kalium dan Silica,  kekurangan air dan stress tanaman akibat herbisida. Karena keragaman genetic pathogen yang tinggi  bisa jadi varietas tahan blas di suatu daerah tidak tahan di daerah lain.  Hubungan kekeringan dn juga stress tanaman karena herbisida yang terkait dengan kerentanan  tanaman terhadap infeksi pathogen blas telah diteliti. Selian itu perbedaan suhu tertinggi dan terendah suatu daerah juga berpengaruh, makin besar perbedaan itu makin mendorong epidemi penyakit blas.

 

Pengendalian:

1. Jerami dikembalikan, perbanyak pupuk kandang, pupuk hijau. Bahan organik selain membuat  tanah tidak mudah kekeringan, juga menyediakan hara mikro dan substrat mikrob mikroba yang berguna bagi pertumbuhan tanaman dan ketahanannya terhadap penyakit.

2. Upayakan kecukupan kalium, baik dengan pupuk buatan seperti KCl, maupun abu bakaran kayu, abu gosok, abu sekam.

3. Menghindari penggunaan herbisida, karena meningkatkan kerentanan terhadap blas.

4. Penggunaan PGPR , pilih isolat/strain yg terbukti efektif. untuk memperkuat tanaman.

5. Aplikasi teh kompos terutama pada tanaman muda, yang mempunyai efek langsung berupa senyawa anticendawan alami, dan juga unsur mikro yang memperkuat tanaman.

Artikel oleh:

Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr

#DokterTanaman #DokterTanamanIPB #BlasPadi #PGPR #AgensHayati

Seri Dokter Tanaman IPB: Mengatasi kekeringan pada tanaman dengan pendekatan mikrobiologis

Kekeringan adalah kejadian yang sebenarnya bisa diprediksi melalui pendekatan klimatologi serta ilmu pendukung lainnya. Kekeringan yang akan terjadi tersebut dapat diantisipasi jauh-jauh hari agar meminimalkan dampak yang bencana.

Kekeringan tidak hanya melanda perdesaan dan perkotaan tetapi juga hewan dan tumbuhan khususnya pertanian.  Berikut beberapa teknik yang telah diteliti dan dipraktekkan oleh petani di beberapa tempat di Indonesia  khususnya pada tanaman padi dan cabai.

1. Perlakuan bahan organik

Modifikasi tanah yang dimaksud yaitu melakukan perbaikan terhadap kapasitas penyimpanan air dalam tanah serta melancarkan infiltrasi air ke dalam tanah yang lebih dalam lagi. Solusi khususnya bagi tanah yang memiliki bahan organik rendah di bawah 2% yaitu dengan penambahan bahan organik.

Bahan organik ditambahkan selain sebagai peningkat water holding capacity juga sebagai reaktor sifat biologi dan kimia dalam tanah. Sehingga selain meningkatkan penyimpanan air menjadi ketahanan yang lebih lama juga mampu membantu menyediakan hara yang diperlukan tanaman.

Bahan organik pada tanah pasir sebagai perekat agar air dapat bertahan dalam top soil dan pada tanah lempung sebagai perenggang antar molekul tanah sehingga tanah menjadi remah dan air tidak run off atau lewat begitu saja karena sulit masuk ke dalam tanah.

Bahan organik tersebut dapat berupa kompos, mulsa jerami, sekam atau apa saja yang dapat digunakan sebagai bahan pembenah tanah atau perbaikan tanah. Bahan tersebut juga dapat berasal dari tanaman-2 atau tumbuhan atau sisa ternak baik kotoran maupun sisa pakan yang terbuang yang dekat dari lahan pertanian. Tentu ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesuburan tanah serta keberlanjutan kebermanfaatan tanah. Pengembalian jerami pada sawah tadah hujan, di Kuningan, Subang dan Blora terbukti bisa mengurangi frekuensi pengairan menggunakan popmpa air sebanyak 60%

2. Penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)  dan (Plant Growth Promoting Fungi) PGPF

PGPG bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar supaya bertambah ekstensif. Perakaran yang banyak dan lebat tersebut dapat membantu tanaman dalam menghadapi cekaman kekeringan. Selain itu juga membantu tanaman dalam penyediaan hara dengan bakteri pelarut hara tanah seperti phospat dan lain sebagainya.   Dengan perakaran yang lebih ekstensif, tanaman lebih tahan kering.  Penggunaan PGPR pada cabai  pada uji coba  Klinik Tanaman di Cibungbulang Bogor, mengurangi kematian karena kekeringan sebesar 72%.

3. Penggunaan cendawan endofit

Cendawan  endofit merupakan cendawan yang hidup  di dalam jaringan tanaman.  Beberapa isolat khusus cendawan endofit seperti Penicillium sp. isolat Klinik Tanaman IPB, bisa meningkatkan ketahanan padi terhadap kekeringan yang ekstrim.   Cendawan endofit ini membuat tanaman toleran kering dengan cara mempengaruhi membuka menutupnya stomata.  Teknik ini sudah diuji coba petani padi  dan berhasil memperkuat padi dari kekeringan , di Bojonegoro, Tegal, dan Indramayu.

Artikel oleh:

Dr. Ir. Suryo Wiyono, M.Sc.Agr

#DokterTanaman #DokterTanamanIPB #kekeringan #PGPR #AgensHayati