Logo

Daftar Berita

Inisiasi Kerjasama PTN dengan Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman Pemprov DKI Jakarta

Senin 12 April 2021, Departemen Proteksi Tanaman, Faperta – IPB University mengadakan pertemuan dengan Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman, Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian – DKI Jakarta. Pertemuan ini membahas potensi kerjasama antara kedua lembaga tersebut. Ketua Departemen Dr. Ali Nurmansyah beserta Sekretaris Departemen Dr. Dewi Sartiami dan beberapa staf dosen mewakili PTN, sedangkan perwakilan dari Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman, Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian – DKI Jakarta adalah Ir. Ali Nurdin, MM (Kepala Pusat) dengan jajaran stafnya

Pertemuan berlangsung selama satu jam dan menghasilkan perjanjian kerjasama dalam bidang pengembangan benih dan proteksi tanaman.

Liputan Kompas.com: Dosen IPB: Kenali Hama Tanaman Cabai dan Cara Pencegahannya

KOMPAS.com - Bagi para petani cabai, hama atau penyakit pada tanaman menjadi hal yang sangat merugikan. Apalagi cabai termasuk yang rentan diserang hama atau penyakit tanaman. Saat terserang organisme penganggu tanaman (OPT) menjadi sesuatu yang sangat merugikan petani. Bahkan jika tidak cepat ditanggulangi akan menyebabkan gagal panen. Karena budidaya cabai yang cukup mudah, tanaman ini tidak hanya dibudidaya petani berskala besar. Tapi bagi ibu rumah tangga yang ingin berhemat, juga bisa juga menanam cabai di pekarangan rumahnya. Ada beberapa hama atau penyakit tanaman cabai yang sering membuat cabai busuk dan gagal panen. Merangkum dari kanal Youtube Institut Pertanian Bogor (IPB), ada beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman ini. Yuk kita kenali hama pada tanaman cabai, gejala dan cara menanggulanginya.

1.Antraknosa Serangan penyakit Antraknosa ini muncul pada musim penghujan. Jika terserang hama ini, biasanya tanaman cabai memiliki lingkaran konsentris berwarna hitam atau putih. Selain itu cabai jadi busuk dan keriput.

2. Layu bakteri Tanaman cabai yang terkena penyakit layu bakteri akan menunjukkan gejala layu dan kematian mendadak tanaman.

3. Busuk Phytophthora Gejala yang dialami pada tanaman cabai yakni batang berupa menjadi warna cokelat dan tanaman mati tanpa daun menguning.

4. Keriting kuning Tanaman cabai jika terkena penyakit ini akan menunjukkan gejala daun keriting kuning dan kerdil.

5. Thrips Salah satu hama yang menyerang tanaman cabai adalah Thrips. Gejalanya tanaman cabai terdapat bercak keperakan dan daun jadi keriting.

6. Lalat Buah Jika tanaman cabai terserang hama lalat buah, menunjukkan gejala buah busuk dan rontok jika dibuka ada belatung di dalam buah. Jika tanaman cabai terkena OPT, bisa ditanggulangi dengan menggunakan sistem penanganan hama terpadu.

Menurut Dosen Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB Suryo Wiyono, mengelola hama penyakit agar tidak menimbulkan kerusakan yang berat bisa dilakukan dengan 3 langkah ini.

1. Mengurangi jumlah sumber serangan hama dan penyakit Jumlah sumber serangan hama dan penyakit dilakukan dengan menghilangkan atau memusnahkan sisa tanaman atau bahkan tanaman dari musim sebelumnya. "Selain itu gulma-gulma berdaun lebar yang merupakan sumber virus harus dibersihkan pada awal musim tanam," ungkap Suryo.

2. Meningkatkan ketahanan atau kesehatan tanaman Meningkatkan ketahanan tanaman atau kesehatan tanaman dengan cara pemilihan varietas yang adaptif dan optimalisasi pemupukan sesuai dengan daerah masing-masing. "Lakukan imunsasi dengan mikroba-mikroba yang bermanfaat," ujar Suryo.

3. Menyehatkan lingkungan Langkah menyehatkan lingkungan sekitar agar tidak mendukung perkembangan penyakit atau hama.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dosen IPB: Kenali Hama Tanaman Cabai dan Cara Pencegahannya", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/edu/read/2021/04/14/142000071/dosen-ipb--kenali-hama-tanaman-cabai-dan-cara-pencegahannya?page=all#page2.
Penulis : Mahar Prastiwi
Editor : Dian Ihsan

Liputan IPB News: Penggunaan PGPR Percepat Masa Panen dan Tingkatkan Produksi Ubi Jalar di TNGC

Pimpinan Fakultas Pertanian IPB University melakukan kunjungan lapang dan panen ubi jalar di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat. Desa Cibuntu merupakan desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang berlokasi di Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Sebagai desa penyangga, Desa Cibuntu memiliki potensi pelestarian alam dan lahan pertanian yang subur. Warga desa Cibuntu dikenal kompak dalam melakukan aktivitas pelestarian alam dan kegiatan pertanian. Salah satunya adalah kegiatan pertanian ubi jalar.

Rombongan kunjungan terdiri atas Dekan Fakultas Pertanian, Dr Sugiyanta, Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Dr  Suryo Wiyono, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr Afra D N Makalew dan Sekretaris Departemen Proteksi Tanaman, Dr Dewi Sartiami.

“Penanaman ubi jalar di Desa Cibuntu menerapkan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizhobacteria) yang berasal dari TNGC. PGPR ini dikembangkan oleh salah satu dosen kami di Departemen Proteksi Tanaman. Hal ini berawal dari kelangkaan pupuk subsidi di Desa Cibuntu. TNGC melihat kelangkaan ini sebagai peluang untuk melakukan upaya pengelolaan ekosistem di Desa Cibuntu yang merupakan desa penyangga Taman Nasional dengan memanfaatkan mikroba sebagai pengganti pupuk kimia, " ujar Dr Sugiyanta.

Berdasarkan penjelasan Dr Sugiyanta, PGPR merupakan bakteri-bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri tersebut hidup secara berkoloni menyelimuti akar tanaman. Bagi tanaman, keberadaan mikroorganisme ini sangat baik, karena bakteri ini memberi keuntungan dalam proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya.

Warga Cibuntu menerapkan kombinasi PGPR dengan pupuk kandang untuk menunjang pertumbuhan ubi jalar. Lahan yang digunakan untuk penanaman ubi jalar seluas 70 hektar.

Petani Desa Cibuntu merasa puas dengan penerapan PGPR untuk penanaman ubi jalar. Menurut mereka, penggunaan PGPR dapat mempercepat masa panen selama satu bulan dan meningkatkan produksi ubi jalar hingga 2,5 ton. Harapannya, petani dapat secara konsisten memanfaatkan PGPR dan pupuk kandang sebagai input pertanian. Penerapan PGPR dapat menjadi upaya untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem di desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai agar idak rusak karena cemaran dan residu pupuk kimia. (**/Zul)

Artikel di IPB News: Penggunaan PGPR Percepat Masa Panen dan Tingkatkan Produksi Ubi Jalar di TNGC

Liputan IPB University News: Ilmu Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman IPB University Jadi Trendsetter di Indonesia

Satu di antara masalah pertanian yakni tidak terkendalinya serangan hama dan penyakit pada tanaman. Hama dan penyakit tanaman dianggap sebagai permasalahan utama dalam sistem produksi pertanian di Indonesia yang dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 30 persen per tahun. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk mengendalikan hama dan penyakit agar tidak memberikan dampak yang merugikan terhadap hasil panen baik secara kualitas maupun kuantitas. Upaya tersebut dimulai dengan membentuk Suberdaya Manusia (SDM) yang mumpuni dan berintegritas untuk dapat mengontribusikan pengetahuannya secara komprehensif dalam penanganan hama dan penyakit tanaman.

Departemen Proteksi Tanaman atau biasa disingkat PTN, Fakultas Pertanian, IPB University telah berdiri sejak tahun 1950 dengan nama Divisi Entomologi-Fitopatologi. Perubahan nama menjadi "Departemen Proteksi Tanaman" sejak 2005.

Departemen PTN menjadi trendsetter dan sekaligus rujukan terkait sains hama dan penyakit tanaman di Indonesia. Departemen ini telah memperoleh berbagai program hibah kompetisi peningkatan mutu pendidikan. Yaitu peningkatan mutu program pascasarjana melalui Project University Research Graduate Education (URGE) pada 1997 – 2000, peningkatan mutu program sarjana dengan Project Quality Undergraduate Education (QUE) pada 2000 – 2003, dan peningkatan mutu dan relevansi menuju perguruan tinggi yang sehat, otonom, akuntabel, dan berkontribusi pada daya saing bangsa melalui Program Hibah Kompetisi B pada 2005 – 2007.

"Departemen Proteksi Tanaman memiliki keunggulan sebagai trendsetter dan rujukan mengenai sains hama dan penyakit tanaman. Publikasi yang kita hasilkan selalu menjadi rujukan nasional. Eksistennya akan selalu dibutuhkan selama pertanian itu ada,” ungkap Dr Ali Nurmansyah, Ketua Departemen Proteksi Tanaman

Dalam penjelasannya, Dr Ali menyampaikan statistik lulusan Program Studi Sarjana Proteksi Tanaman dan perannya dalam masyarakat. Secara persentase yaitu perusahaan agrokimia baik nasional maupun multi nasional (40 persen), PNS (20 persen), Badan Usaha Milik Negara (13 persen), wirausaha (13 persen), dan lainnya seperti guru, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), dan sebagainya (14 persen).

Kualitas lulusan yang dihasikan oleh Prodi Proteksi Tanaman ditunjang oleh kualitas dosen serta sistem pelayanan pendidikan maupun fasilitas yang lengkap. Departemen Proteksi Tanaman memiliki 37 dosen yang terdiri atas 3 profesor, 29 doktor, dan 8 master.

"Secara sertifikasi, kita sudah mendapatkan akreditasi A sejak tahun 1998. Pada 2013 – 2017 telah mendapatkan akreditasi internasional dari lembaga Asean University Network – Quality Assurance (AUN-QA) dan saat ini sedang menunggu penilaian oleh lembaga akreditasi internasional ASIIN," tambah Dr Ali.

Departemen Proteksi Tanaman berkomitmen tinggi untuk terjun dalam dunia pendidikan pertanian dengan menyelenggarakan pengajaran, penelitian, pelatihan dan pengabdian kepada masyarakat seperti pelayanan kepada petani dan masyarakat melalui Klinik Tanaman dengan mobil kliniknya.
Saat ini, Departemen Proteksi Tanaman menawarkan dua program pendidikan yaitu program sarjana dan program pasca sarjana untuk master dan doktor.

Mahasiswa Program Studi Proteksi Tanaman dilatih untuk memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman sehingga mampu memberi dan mengonsep suatu rekomendasi dalam memecahkan berbagai masalah hama dan penyakit tanaman, memimpin dan mendesain sebuah penelitian terapan dalam bidang proteksi tanaman.

"Cita-cita besar untuk Departemen Proteksi Tanaman adalah lebih banyak lagi lulusan sarjana yang berkiprah di tingkat internasional, lulusan yang melek teknologi terkini (teknologi informasi, internet of things, drone dan lain-lain). Riset-riset di PTN bisa diselaraskan dengan kemajuan teknologi (Teknologi 4.0) sehingga memudahkan urusan petani dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang ramah terhadap lingkungan," tutup Dr Ali. (SMH/Zul)

Artikel di IPB University News: Ilmu Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman IPB University Jadi Trendsetter di Indonesia