Logo

What We're Doing Right Now

  • PTN Menyelenggarakan Pelatihan Tematik untuk Mahasiswa S1 yang Akan menghadapai Kuliah Tatap Muka Tahun 2022

    Pelatihan tematik yang bertajuk Pelatihan Teknik Keterampilan Dasar Proteksi Tanaman Bagi Mahasiswa S1 Proteksi Tanaman Semester IV, VI dan VIII adalah agenda pelatihan tatap muka pertama setelah hampir dua tahun pandemi yang dilaksanakan oleh Departemen Proteksi Tanaman (PTN), Fakultas Pertanian – IPB University ini dilaksanakan pada 10 sampai dengan 17 Januari 2022, bertempat di laboratorium pendidikan PTN, Dramaga. Peserta pelatihan tematik ini adalah mahasiswa S1 Proteksi Tanaman semester IV, VI, dan VIII yang sama sekali belum pernah melakukan praktikum langsung di laboratorium, dengan tujuan para mahasiswa tidak akan merasa canggung menghadapi alat dan bahan-bahan praktikum pada saat kuliah tatap muka nantinya dilaksanakan. Berikut adalah dokumentasi acara pelatihan tematik yang disambut sangat antusias oleh mahasiswa maupun oleh dosen PTN

    ...

    #PTNkeren #DokterTanamanIPB #IPBuniversity #PelatihanTematik

    Read More

Recent News

PTN Menyelenggarakan Pelatihan Tematik untuk Mahasiswa S1 yang Akan menghadapai Kuliah Tatap Muka Tahun 2022

Pelatihan tematik yang bertajuk Pelatihan Teknik Keterampilan Dasar Proteksi Tanaman Bagi Mahasiswa S1 Proteksi Tanaman Semester IV, VI dan VIII adalah agenda pelatihan tatap muka pertama setelah hampir dua tahun pandemi yang dilaksanakan oleh Departemen Proteksi Tanaman (PTN), Fakultas Pertanian – IPB University ini dilaksanakan pada 10 sampai dengan 17 Januari 2022, bertempat di laboratorium pendidikan PTN, Dramaga. Peserta pelatihan tematik ini adalah mahasiswa S1 Proteksi Tanaman semester IV, VI, dan VIII yang sama sekali belum pernah melakukan praktikum langsung di laboratorium, dengan tujuan para mahasiswa tidak akan merasa canggung menghadapi alat dan bahan-bahan praktikum pada saat kuliah tatap muka nantinya dilaksanakan. Berikut adalah dokumentasi acara pelatihan tematik yang disambut sangat antusias oleh mahasiswa maupun oleh dosen PTN

...

#PTNkeren #DokterTanamanIPB #IPBuniversity #PelatihanTematik

Workshop Manajemen Perubahan Peningkatan Kualitas Kerja Tenaga Kependidikan - PTN

Bogor, 14-15 Januari 2022. Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian – IPB University mengadakan kegiatan Workshop Manajemen Perubahan Peningkatan Kualitas Kerja Tenaga Kependidikan yang bertujuan untuk mengikat kembali keeratan dalam kerjasama antara tenaga pendidik (tendik) setelah dua tahun terakhir menajalani masa-masa kerja dari rumah (WFH), setelah masa pandemi berangsur membaik dan akan diadakannya kuliah tatap muka di IPB. Kegiatan ini berlansung selama dua hari satu malam bertempat di Villa Bukit Pinus, Pancawati – Bogor.

Kegiatan utama dari workshop ini adalah spritual capital training dengan trainer Boni Shallehuddin yang membawakan pelatihan tentang memberikan value terhadap diri sendiri, acara selanjutnya adalah malam keakraban dengan beberapa pentas dari kelompok yang sudah ditentukan sebelumnya, acara pamungkas sebagai pengikat keeratan kerjasama tendik yaitu outbond.

Pelepasan Purnabakti Bapak Ahmad Soban, Bu Farma Ruri Utari dan Bapak Dede Sukaryana

Rabu 05 Januari 2022, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian – IPB University menggelar acara pelepasan purnabakti staf tenaga kependidikan (tendik) yang telah memasuki masa purnabakti pada tahun 2021, ada tiga tendik yang dilepas secara seremonial, yaitu Bapak Ahmad Soban yang memasuki masa purnabaktinya pada 01 April 2021, Ibu Farma Ruri Utari yang memasuki masa purnabaktinya pada 01 Juli 2021 dan yang terakhir adalah Bapak Dede Sukaryana yang memasuki masa purnabaktinya pada 01 Agustus 2021. Pelepasan purnabakti ini dilaksanakan secara Hybrid (offline dan online via Zoom) di D’Sawah Resto.

Pak Soban (sapaan akrabnya Bapak Ahmad Soban) selama mengabdi di PTN beliau mendedikasikan hidupnya pada pekerjaan sebagai teknisi Laboratorium Vertebrata Hama selama 33 tahun 1 bulan, beliau memulai karirnya pada tahun 1986 dan menjadi CPNS pada 1 Maret 1988, keseharian beliau bekerja di Lab Vertebrata Hama sebagian besar berurusan dengan tikus-tikus yang jadi hewan percobaan di lab tersebut. Berikut biodata lengkap beliau:

Bu Ruri (sapaan akrab Ibu Farma Ruri Utari) adalah staf tendik yang pasti akan dikenal oleh semua mahasiswa PTN, karena bagi mahasiswa yang akan mengurus akademiknya akan berhadapan dengan beliau, karena beliau merupakan staf bidang akademik, dimana semua urusan akademik mahasiswa menjadi tanggungjawabnya bersama Ibu Sulis. Bu Ruri akan menikmati masa pensiunnya setelah mengabdi selama 29 tahun 6 bulan. Berikut adalah biodata lengkap beliau:

Pak Dede (sapaan akrab Bapak Dede Sukaryana)  menjadi andalan dalam bidang IT dari pertama kali PTN memiliki komputer sampai pada akhir masa mengabdinya, Pak Dede selalu menemani staf dosen ataupun mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam bidang IT, beliau adalah salah satu staf tendik yang memiliki masa pengabdian terlama, yaitu selama 39 tahun 5 bulan, berikut adalah biodata lengkap beliau:

Berikut beberapa dokumentasi acara pelepasan purnabakti, serta video persembahan dari kami teman-teman seperjuangan para purnabakti yang ditampilkan pada acara tersebut:

Dr. Swastiko Priyambodo Jelaskan Pengelolaan Hama Tikus pada Jagung

Dr Swastiko Priyambodo, pakar tikus dari IPB University memberikan langkah pengendalian hama tikus pada jagung. Ia menyebut, hanya sembilan jenis tikus yang menjadi hama di Indonesia.

“Tikus sawah merupakan hama penting menyerang komoditas jagung setelah panen padi. Sedangkan tikus pohon umumnya menyerang sawit ditemukan di pemukiman sub pertanian. Terutama di sawah dan perkebunan yang berbatasan dengan pemukiman,” kata Dr Wastiko.

Untuk mengendalikan tikus, dosen IPB University itu mengatakan, petani dan pemerintah perlu memahami kelebihan dan kekurangan tikus agar dapat mengatur strategi pengendalian hama ini. Ia mencontohkan, perlu dilakukan pre-baiting pada racun akut dengan aplikasi zinc fosfit pada tanaman pangan. Sedangkan, untuk racun bersifat kronis tidak perlu pre-baiting.

“Kelemahan tikus itu neo phobia atau takut pada benda baru. Jadi perlu penggunaan jera umpan, jera racun, dan jera perangkap,” tambah Dr Swastiko Priyambodo, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman.

Ia juga menyebut, pengetahuan biologis tikus juga patut untuk diketahu. Ia menjelaskan, tikus sawah umumnya matang seksual hanya dalam dua bulan. Tidak hanya itu, tikus juga memiliki kejadian post partum estrus atau pasca melahirkan dua hari sudah bisa birahi. Hal ini tidak didapatkan oleh mamalia lain sehingga potensi reproduksi tikus sangat melimpah dan dapat melahirkan sepanjang tahun.

“Dalam strategi pengelolaan tikus, penting untuk memahami biologi dan perilaku tikus  karena spesies ini paling dapat bertahan hidup. Hal ini dibutuhkan untuk monitoring early warning system,” jelasnya dalam Webinar dan Bimtek Propaktani yang digelar oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, (07/12).

Dalam kesempatan ini, Dr Swastiko juga menjelaskan bahwa resistensi tikus terhadap rodentisida juga semakin tinggi. Hal ini karena intensitas penggunaan racun di pemukiman sangat tinggi.

Dosen IPB University itu mengatakan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pengelolaan tikus.  Cara tersebut antara lain adalah sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan ini dapat dilakukan di beberapa wilayah yang terdapat sarang tikus. Petani harus mengupayakan agar tikus-tikus di sarang merasa tidak nyaman.

Manajemen tikus lainnya yakni dengan cara kultur teknis seperti rotasi tanaman. Namun demikian, pada beberapa spesies sulit untuk dilakukan rotasi tanaman. Seperti tanaman jagung masih bisa diserang kembali oleh hama tikus. Sistem jajar legowo bagi padi relatif berhasil namun bagi jagung masih dipertanyakan.

“Aplikasi internet of things juga dapat dikembangkan. Aplikasi ini mampu mendeteksi jebakan yang berhasil menangkap tikus berdasarkan gerakan tikus. Namun biaya harus diperhitungkan. Jebakan yang dibuat dapat bersifat repelen, melindungi, mematikan,” katanya.

Adapun manajemen tikus dengan cara biologi dan hayati, dapat memanfaatkan predator seperti burung hantu. Namun demikian, populasi predator di sawah cenderung turun karena diganggu oleh manusia untuk dibunuh atau diperjual belikan.

“Sedangkan manajemen tikus secara kimiawi harus lebih bijaksana dalam penggunaannya. Cara fumigasi setelah panen padi dinilai cukup efektif. Penggunaan atraktan dan repelen bisa diterapkan namun masih terkendala dalam proses ekstraksi. Aplikasi kemosterilan untuk memandulkan tikus juga terus dikembangkan,” pungkas Dr Swastiko. (MW – IPB News)

#DokterTanamanIPB # WebinarPropaktani #HamaTikusJagung #PTNkeren #IPBuniversity

Recent Events

Purnabakti Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc. dan Prof. Dr. Ir. Meity Suradji Sinaga, M.Sc.

10 February 2021

Zoom Meeting

FGD: Respon Cepat Invasi Spodoptera frugiperda

15 July 2019

Bogor