Logo

Daftar Berita

Selamat Datang Kepada Angkatan 53 dan 54 di IPB

Segenap civitas akademika Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian mengucapkan selamat datang kepada para mahasiswa yang baru menapakkan diri di Departemen setelah setahun mengikuti program PPKU (Program Persiapan Kuliah Umum) sebagai syarat menempuh kegiatan belajar-mengajar reguler di IPB. Selain itu selamat datang juga kepada mahasiswa baru  angkatan 54 di Institut Pertanian Bogor. Semoga seluruh kegiatan yang akan ditempuh di IPB ini lancar dan sukses.

Halal-Bihalal Alumni HPT/PTN - IPB 2017

Halal-bihalal merupakan salah satu tradisi yang berkembang di Islam, biasanya dilakukan setelah perayaan hari raya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam. Dewasa ini, Halal-bihalal diartikan lebih luas dan sering disamakan dengan acara reuni suatu kelompok. Tanggal 16 Juli 2017 yang lalu Departemen Proteksi Tanaman dan Himpunan Alumni HPT/PTN menyelanggarakan Halal-bihalal Alumni PTN/HPT – IPB. Acara ini merupakan acara kedua, sebelumnya acara serupa juga diselenggarakan pada tahun 2015.

Acara Halal-bihalal ini diselenggarakan di Cafe Taman Koleksi IPB Baranangsiang dan dihadiri dari oleh perwakilan seluruh angkatan, mulai dari angkatan 0 atau sebelum IPB itu berdiri sampai dengan angkatan 50. Sekitar 250-an peserta termasuk panitia dari 296 peserta yang mendaftar.

Selain acara-acara utama seperti  sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, ketua alumni, dan ketua departemen, acara Halal-bihalal ini juga diisi dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pensiunan tenaga kependidikan. Acara yang dinantikan selanjutnya adalah hiburan berupa pertunjukkan organ tunggal yang diselingi dengan menyantap berbagai makanan khas kota bogor, berupa Soto mie, Laksa, Cilok, dan Asinan. Acara diakhiri dengan prosesi foto bersama seluruh angkatan yang hadir.

Peneliti IPB: Ini Penyebab Serangan Wereng Batang Cokelat

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Dalam dua bulan ini, Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) banyak menerima pesan melalui WhatsApp (WA) dan kiriman foto tentang serangan hama wereng batang coklat (WBC) dari petani-petani jaringan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB dan anggota Gerakan Petani Nusantara (GPN).  Kondisi ledakan hama ini menyerupai yang terjadi pada tahun 2011/2012, hanya saja lokasinya lebih luas.

Pada tahun 2011/2012 ledakan hanya terjadi di sentra produksi padi di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta) dan menyebabkan Indonesia harus impor beras sekitar dua juta ton.  Ledakan WBC yang sekarang juga dilaporkan di daerah lain dan luar Jawa, seperti Pandeglang, Sumatera selatan (OKU dan OKUT), Jambi, Sumut, Lampung dan Sulawesi.

Siaran pers IPB yang diterima Republika.co.id, Jumat (9/6) menyebutkan, fenomena ledakan wereng ini selain karena faktor agroklimat ternyata juga dipicu oleh penggunaan pestisida. Penelitian IPB sejak tahun 1986 hingga sekarang menunjukkan hubungan positif antara wereng dan penggunaan pestisida.

Menurut  peneliti di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian (Faperta) IPB Dr.  Hermanu Triwidodo, penggunaan pestisida mendorong peningkatan serangan wereng. Semakin sering menyemprot, maka peluang terjadinya puso semakin besar.

“Penyebab ledakan adalah pemaksaan penanaman padi yang terus-menerus tanpa jeda, penggunaan insektisida yang terlarang untuk padi, serta pemupukan yang tidak seimbang, serta kesuburan tanah yang kritis,” ujar Hermanu.

Ia mengemukakan, penggunaan pestisida (insektisida, fungisida, herbisida dan bakterisida) pada padi sawah sangat tinggi. Contohnya,  di Karawang (Jawa Barat) rata-rata 11 kali per musim, sedangkan di Klaten (Jawa Tengah)  12 kali per musim.

“Hal ini melemahkan ketahanan ekosistem sawah karena matinya serangga musuh alami, kematian mikrob endofit, kerusakan keanekaragaman hayati mikroflora dan mesofauna dan rusaknya jaring makanan yang kompleks di sawah,” tutur  Hermanu.

Klinik Tanaman IPB, LPPM IPB dan GPN telah memberi peringatan akan kemungkinan terjadinya ledakan WBC dan menyediakan teknologi untuk menghindarinya. Ledakan wereng coklat tersebut disebabkan oleh adanya spot populasi wereng  coklat di hampir semua  daerah sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Di samping itu, prakiraan curah hujan di atas normal pada  berbagai sentra beras pada musim hujan dan penggunaan pestisida terlarang dan aplikasi yang berlebihan oleh petani.

“Faktor lainnya adalah penggunaan pestisida yang berlebihan. Sebabnya marketing dan distribusi pestisida yang tidak terkontrol, kekalahan pelayanan pemerintah di bidang pertanian dibanding kios pestisida,  banyaknya bantuan pestisida oleh pemerintah, dan petani lupa akan Pengendalian Hama Terpadu (PHT),” ujarnya.

 

Berdasar pada permasalahan tersebut, kata Hermanu, Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB merekomendasikan penegasan kembali Inpres No. 3 Tahun 1986 tentang penerapan PHT dan pelarangan 57 jenis insektisida dan pelarangan terhadap pestisida lain penyebab resurgensi wereng pada tanaman padi. Juga, moratorium pengadaan pestisida oleh pemerintah serta pengalokasian pendidikan petani dan pemberdayaan pembuatan sarana pengendalian ramah lingkungan.

“Untuk musim tanam yang sedang berlangsung, jika terpaksa menggunakan pestisida, harus menggunakan pestisida yang mendapat izin penggunaan untuk wereng.  Jajaran penyuluh harus secara proaktif memberikan penyuluhan, jangan menyerahkannya pada kios penjual racun. Perlu penataan kembali regulasi pengelolaan pestisida  mulai pendaftaran, produksi, distribusi, pemasaran dan pemusnahannya,” paparnya.

Hermanu juga menegaskan, pentingnya peningkatan kerja sama dan koordinasi antara Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi petani dalam pengembangan upaya penanggulangan ledakan wereng. “Sinkronisasi dan harmonisasi kinerja aparat pertanian secara vertikal (pusat-daerah) dan horisontal (antar lembaga pelayanan pertanian) perlu ditingkatkan untuk mengatasi serangan WBC,” tutur Hermanu Triwidodo.

Sumber artikel

Tahun 2010 juga merupakan salah satu tahun dengan angka Outbreak WBC yang tinggi, dan dengan kondisi tersebut tahun 2010 Departemen Proteksi Tanaman yang mewakili IPB melakukan koordinasi nasional untuk menanggulangi kondisi saat itu, berikut video reportase penganggulangan WBC pada Tahun 2010

Sumber

12th Anniversary of Insect Museum ‘Soemartono Sosromarsono’ IPB

“Museum serangga harus menjadi jendela dunia bagi manusia untuk mengenal serangga”, demikian pesan yang disampaikan oleh Dr Suryo Wiyono, MSc.Agr selaku Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB pada pembukaan agenda 12th Anniversary of Insect Museum Soemartono Sosromarsono, Sabtu, 20 Mei 2017 yang lalu. Bersamaan dalam sambutannya, beliau juga menuturkan bahwa semangat perjuangan Profesor Soemartono Sosromarsono sebagai entomologis pertama Indonesia yang berasal dari pribumi, harus dirasakan oleh mahasiswa dan mendorong mereka untuk mempelajari dunia serangga ini lebih mendalam. Ibu Atiek Sinarwati, sebagai perwakilan dari museum serangga turut menuturkan perjalanan museum serangga yang telah menyimpan koleksi lebih dari 1000 spesies serangga ini. Selain itu, beliau juga menjelaskan berbagai agenda yang rutin diadakan museum serangga dalam rangka memberikan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum terkait serangga.

Peringatan ulang tahun museum serangga ini juga dimeriahkan dengan perlombaan identifikasi serangga dan ‘spelling-bee’. Lomba identifikasi serangga dilakukan untuk memperdalam pengetahuan serta mengasah pemahaman peserta terkait ordo, famili, bahkan nama spesies suatu serangga. Sementara itu, lomba ‘spelling-bee’, menuntut peserta agar mampu mengeja penamaan ataupun istilah yang berkaitan dengan serangga menggunakan bahasa Inggris dengan benar. Meski sehari-hari mahasiswa telah bergelut dengan berbagai kesibukan perkuliahan dan praktikum, adanya perlombaan ini diharapkan mampu me-refresh kembali materi-materi yang telah diperoleh dengan lebih fun.

Agenda yang dilaksanakan di Ruang Sidang 1 Departemen Proteksi Tanaman IPB ini, diikuti oleh mahasiswa/i dari Departemen Proteksi Tanaman, Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Pascasarjana Entomologi IPB. Perlombaan berlangsung secara sportif dan diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta. Tampil sebagai 5 besar finalis lomba identifikasi serangga yakni Ratna Nengsih (PTN 50), Sefin Mei S (PTN 51), Fusna A Khoiril Y (PTN 48), Maya Eka Sari (PTN 50) dan Nurul Novianti (PTN 48). Sementara itu, Azru Azhar (Entomologi 2016), Nurul Novianti (PTN 48), Juliana Sani (PTN 50), Cindy Aprilla P (PTN 50), dan Tri Ungki Y (PTN 50) menjadi 5 terbaik dalam lomba ‘spelling-bee’. Peringatan ulang tahun museum serangga yang ke-12 tahun ini ditutup dengan pembagian hadiah pada pemenang, acara ramah tamah dan makan tumpeng bersama.

Museum serangga telah menyimpan banyak sejarah dan ilmu yang sangat berharga terkait dunia serangga. Maka sudah selayaknya harus terus diperkenalkan kepada masyarakat, karena museum serangga adalah jendela dunia serangga bagi manusia. 

Repotase: Arini (Entomologi S2 2014)