Logo

Daftar Berita

Prestasi Mahasiswa PTN Tahun 2020

Apresiasi tertinggi kami ucapkan kepada mahasiswa meskipun tahun 2020 ini dunia dilanda pandemi Covid 19 para mahasiswa ini masih mempunyai semangat untuk tetap berprestasi. Tercatat sebanyak 17 prestasi yang ditorehkan mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman sepanjang tahun 2020, mulai dari prestasi lokal, nasional maupun prestasi tingkat internasional, berikut merupakan daftar dari prestasi-prestasi dan nama mahasiswa yang memperolehnya:

Dosen IPB University Manfaatkan Lebah untuk Penyerbukan Strawberry

Trubus.id (http://Trubus.id) -- Nadzirum Mubin, dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian memanfaatkan lebah untuk penyerbukan di perkebunan strawberry. Dirinya mengajak petani strawberry untuk melakukan penyerbukan dengan lebah.

Menurutnya, buah strawberry merupakan buah agregat yang terbentuk dari bagian reseptakel bunga yang membengkak. Pada permukaan buah strawberry terdapat banyak buah sejati (true fruit) atau achene dengan masing-masing satu ovul. Pada achene yang berisi ovul yang dibuahi menghasilkan hormon auksin yang memicu perkembangan reseptakel.

“Agar dihasilkan buah strawberry dengan bentuk yang sempurna, setiap achene harus dapat dibuahi. Buah akan mengalami bentuk yang tidak sempurna (malformasi) jika ada sebagian achene yang tidak dibuahi. Oleh karena itu, tingkat penyerbukan yang rendah merupakan penyebab utama terjadinya malformasi buah,” kata Nadzirum ketika melakukan kunjungan ke kebun strawberry di perbatasan Bogor dan Sukabumi, belum lama ini.

Penyerbukan pada buah strawbery dapat terjadi melalui kombinasi antara gravitasi dan angin, akan tetapi tingkat keberhasilan penyerbukannya jarang melebihi 60 persen. Keberhasilan penyerbukan alami yang rendah terjadi karena posisi stamen (organ reproduktif jantan) lebih rendah daripada stigma (organ reproduktif betina), serta masa penerimaan atau reseptif stigma berlangsung lebih awal. Yaitu sebelum anter dari bunga yang sama siap melepaskan serbuk sari (polen).

Beberapa peneliti melaporkan bahwa tingkat malformasi buah strawberry pada kondisi tanpa kehadiran serangga penyerbuk tidak lebih dari 50 persen.

Diketahui banyak serangga yang membantu dalam proses penyerbukan seperti lebah Apis sp., lebah tanpa sengat Tetragonula laeviceps, tawon, lalat Syrpidae dan sebagainya. Ada sekitar 108 spesies yang membantu dalam proses penyerbukan. Akan tetapi dari sebagian serangga tersebut, lebah lebih unggul dibandingkan serangga yang lain karena lebah berkoloni, dalam satu koloni terdapat hampir 1000-10.000 individu.

“Menurut penelitian, serangga penyerbuk yang efektif adalah yang kelimpahannya tinggi, aktif bergerak dari bunga ke bunga (laju kunjungan tinggi), dan mampu memindahkan banyak polen ke stigma. Dan lebah menjadi solusi terbaik ketika menginginkan pemanfaatannya sebagai penyerbuk di dalam green house untuk menyerbuki bunga strawberry,” tutupnya.

TrubusNews

Astri Sofyanti

Kuliah Umum Pengelolaan Hama Gudang dan Permukiman 2020

Kuliah Umum dengan narasumber Iman Nurrohman, SP (PT Rentokil Initial Indonesia) dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Desember 2020 dengan tema “Pengelolaan Hama Gudang dan Permukiman”. Kuliah umum ini diselenggarakan secara virtual oleh Departemen Proteksi Tanaman melalui MK Hama Gudang dan Permukiman (PTN 311) dengan dosen pengajar Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, MSi, Dr. Ir. Swastiko Priyambodo, MSi, Lia Nurulalia, SP., MSi, serta Nadzirum Mubin, SP., MSi

Rentokil Indonesia telah beroperasi sejak tahun 1969 yang memiliki lebih dari 1500 karyawan, 60 cabang layanan di seluruh Indonesia. Rentokil merupakan suatu organisasi dengan Cakupan Nasional. Rentokil Indonesia berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik oleh tim ahli terbesar yang berdedikasi tinggi untuk mengelola pengendalian hama di tempat.

Pengelolaan hama terpadu (Integrated Pest Management/IPM), merupakan proses pengambilan keputusan untuk mengantisipasi dan mencegah aktivitas hama dan infestasinya dengan mengkombinasikan beberapa strategi untuk memperoleh pemecahan dalam pengontrolan hama dalam jangka panjang. IPM lebih bersifat pencegahan dibandingkan pembasmian hama. Tindakan-tindakan preventif dilakukan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan jalan masuk hama yang potensial. Hama yang umum dijumpai menyerang baik di Gudang penyimpanan maupun di Kawasan permukiman. Ada isitilah common pest dan ada juga istilah uncommon pest. Common pest yaitu hewan yang secara umum oleh masyarakat dikategorikan sebagai hama contohnya tikus, lalat, nyamuk, kecoa, semut dll. Sedangkan uncommon pest yaitu hanya sebagain saja yang mengkategorikan sebagai hama contohnya hama gudang, kucing, burung, kelelawar, ular dll.

Contoh fakta mengenai lalat yaitu adanya risiko kontaminasi. Serangga terbang seperti lalat rumah Musca domestica, lalat buah Drosophila dan lalat limbah Psychodidae mempunyai persentase yang tinggi dalam menyebarkan bakteri dari tubuhnya pada saat mengeluarkan feces dan muntahan yang dapat menyebabkan kontaminasi dalam makanan sehingga berpontensi menyebabkan penyebaran penyakit seperti gastroenteristis, disentri, salmonelosis, typus dan kolera.

Fakta tentang nyamuk. Diketahui ada 4 jenis nyamuk yang umum dijumpai yaitu Anopheles, Aedes aegypti, Ae. Albopictus,dan  Culex. Setiap spesies nyamuk mempunyai perilaku aktivitas masing-masing. Nyamuk Culex dan Anopheles umum dijumpai menyerang pada malam hari (nocturnal), sedangkan spesies lainnya umum dijumpai pagi-siang hari (diurnal). Faktor pendukung mengapa nyamuk menggigit atau menusukkan proboscisnya yaitu karena manusia mengeluarkan gas CO2, adanya bau keringat, suhu yang hangat, adanya pergerakan sehingga nyamuk mengikuti, serta warna kulit. Warna kulit hitam cenderung disukai nyamuk karena warna hitam lebih banyak menyerap kalor/panas.

Selain itu juga ada fakta tentang kecoa. Kecoa menyebarkan penyakit seperti disentri dan Salmonelia. Mereka menyebabkan kontaminasi makanan & keracunan. Mereka menggunakan antena untuk melacak aroma makanan dan muncul dari tempat persembunyian pada waktu yang sama setiap hari. Tanda kehadiran kecoa yaitu kantung telur sering ditemukan di laci atau di celah dinding, adanya bau tidak sedap, khas kecoa, adanya kotoran kecoa.

Konsep IPM yang diaplikasikan yaitu prevention/pencegahan, ekslusi, sanitasi dan treatment/perlakuan sehingga hasil yang diperoleh lebih maksimal. Pencegahan melalui inspeksi bahan baik yang akan masuk ke dalam gudang maupun yang sudah ada di dalam gudang. Pintu harus rapat, tidak terdapat celah pada semua sisinya bahkan di bawah pintu sekalipun, pintu langsung ditutup setelah proses bongkar muat selesai. Selain itu, di depan pintu juga perlu adana pemasangan plastik, air curtain/blower pada pintu gudang, membuat sistem sirkulasi udara lancar agar kelembaban bisa ditekan, seluruh ventilasi dan exhaust menggunakan insect screen, serta lampu penerangan dalam menggunakan Sodium Vapour Lamp yang tidak menarik kedatangan serangga. Tahapan ekslusi yaitu menutup retakan pada lantai yang dapat menampung deposit dari hama serta lantai harus dibersihkan hingga ke tepi/sudut terutama dari tumpahan atau ceceran produk sehingga umumnya bagian sudut bangunan dibentuk curving/lengkung sehinga mudah dibersihkan. Tahapan sanitasi yang umum dilakukan adalah membersihkan baik pada media pembawa, media yang ada diluar gedung/kawasan untuk mengurangi adanya upaya investasi dan perkembangbiakan dari hama. Di dalam gudang penyimpanan, proses penempatan barang tidak boleh mepet dengan tembok (ada jarak minimal 45cm) untuk memudahkan dalam inspeksi dan cleaning. Pallet dan lantai harus rutin dibersihkan terutama dari tumpahan dan ceceran produk, barang reject/return tidak boleh dicampur dengan produk finish goods, serta penyimpanan produk makanan diupayakan tidak lebih dari satu bulan (regular check untuk bahan simpan yang lebih dari 4 minggu). Penyimpanan barang diluar juga membutuhkan sanitasi yaitu jika terdapat barang jadi atau siap distribusi/finish good yang berada di area luar karena dapat berpotensi adanya infestasi silang hama terutama serangga terbang dan tikus untuk mengkontaminasi. Pada pallet yang sudah tidak terpakai dalam kondisi lembab dan sudah lama dibiarkan dapat mengundang adanya infestasi hama dan hama tersebut dapat berkembang biak dengan baik sebagai tempat persembunyian misalnya hama tikus, kecoa, bahkan reptile seperti ular. Tahapan treatment atau perlakuan juga penting selain untuk mengendalikan juga melakukan maintenance yaitu memonitor keberadaan hama baik sebelum maupun setelah perlakukan seperti menggunakan prisma segitiga (glue trap) dan trigonal box untuk monitoring tikus, fly catcher untuk serangga terbang, feromon trap (dome trap-untuk Tribolium, MoBe-untuk Lasioderma serricorne).

Secara umum, hama masuk ke area dalam bangunan dapat melalui merayap atau berjalan, terbang, atau bahkan terbawa melalui barang bawaan dari luar seperti kardus, tas, koper dan sebagainya. Kelangsungan hidup hama yaitu adanya segitiga hidup hama yang terdiri dari makanan, sarang, serta air.  Sehingga untuk melakukan pengelolaan dengan hasil yang optimal maka dapat dilakukan dengan cara menghilangkan salah satu dari segitiga kelangsungan hidup hama tersebut. Sehingga hama tidak akan bertahan hidup dan area yang diinginkan bebas dan bersih dari hama.

Penulis: Nadzirum Mubin, SP., MSi

Mengenal Rayap dan Pengendaliannya Oleh: Nadzirum Mubin, SP., MSi

Seminar online Wisatani sesi 38 yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binaung, Kalimantan Selatan pada hari Rabu, 16 Desember 2020 yang mengundang narasumber Nadzirum Mubin, SP., MSi sebagai dosen muda dari Departemen Proteksi Tanaman, IPB University. Peserta seminar online berasal dari petani, PPL atau penyuluh, mahasiswa dan para praktisi jasa pengendali hama (pest control).

Di lapangan, serangan rayap merupakan musuh besar di pertanian, perkebunan, maupun di permukiman karena sifatnya yang hidden infestation atau diam-diam tetapi merusak beragam tanaman atau furniture. Diketahui bahwa rayap mampu menyebabkan kerusakan hingga 5% dari jumlah tanaman kelapa sawit, yang berarti dalam 1 hektar terdapat 7-8 tanaman yang terserang rayap.

Rayap merupakan kelompok serangga sosial yang berasal dari ordo Blattodea epifamili Termitoidea. Banyak spesies rayap yang diketahui, tetapi yang umum diketahui dapat menyebabkan serangan paling tinggi adalah kelompok rayap tanah spesies Coptotermes curvignathus. Selain itu, ada juga rayap yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada beragam tanaman budidaya seperti rayap Macrotermes gilvus, Odontotermes javanicus, Microtermes insperatus, serta Schedorhinotermes javanicus.

Sama halnya seperti semut dan lebah, rayap merupakan serangga sosial yang mempunyai sistem perkastaan di dalam sebuah koloninya. Terdapat pembagian tugas di dalam koloni yaitu kasta reproduktif (ratu dan raja), prajurit, dan pekerja. Sebagian besar, bahkan mencapai lebih dari 80% koloni rayap berupa kasta pekerja. Kasta pekerja mempunyai peranan yang paling besar sehingga jumlah individu di dalam koloninya juga yang paling banyak. Tugas dari kasta pekerja yaitu merawat telur, memberi makan anakan, memberikan makan kasta lainnya (prajurit, reproduktif), membuat sarang, memperbaiki sarang, serta mencari makan yang bersumber dari selulosa (kayu). Sehingga kasta reproduktif merupakan kasta yang paling dikhawatirkan karena akan mencari sumber pakan di pertanian, perkebunan maupun di permukiman.

Sebelum melakukan pengendalian yang benar, sebaiknya perlu mengetahui biologi serta perilaku dari rayap yang akan dikendalikan. Perilaku rayap yang perlu diketahui adalah rayap selalu menghindari cahaya atau tidak menyukai adanya cahaya langsung disebut dengan perilaku kriptobiotik (kecuali laron) sehingga rayap akan membuat liang kembara yang terbuat dari tanah. Liang kembara ini berfungsi melindungi tubuh rayap dari paparan cahaya secara langsung sehingga rayap dapat mencari sumber pakan dan menstranfer pakan hingga ke sarangnya kembali. Untuk itu, jika terdapat liang kembara dari tanah, maka dapat dipastikan bahwa di tempat tersebut terdapat rayap. Selain perilaku menghindari cahaya, rayap juga mempunyai perilaku saling memberi makan yang dilakukan oleh kasta pekerja atau disebut dengan perilaku Trofalaksis. Perilaku ini berfungsi untuk mentransfer nutrisi/makanan dari satu individu ke individu lainnya. Umumnya, kasta prajurit dan reproduktif tidak mampu mencari makan sendiri, sehingga perlu bantuan dari kasta pekerja untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya. Trofalaksis dapat dilakukan melalui transfer nutrisi dari mulut-mulut atau oral feeding atau transfer dari anus-mulut atau fecal feeding.

Diketahui rayap dapat menyerang tanaman apapun karena rayap membutuhkan selulosa sebagai sumber pakannya. Daun, ranting, kayu lapuk, pelepah sawit, akar dan sebagainya yang bersumber selulosa menjadi target utama sumber pakan bagi rayap. Sehingga akan sulit dilakukan pengendalian tanpa mengetahui biologi dan perilaku dari rayap tersebut. Pengendalian dapat dilakukan menggunakan cara fisik, mekanik, biologi maupun kimiawi. Cara fisik misalnya dengan sistem budidaya yaitu membuat jarak tanam yang tepat sehingga cahaya matahari dapat masuk mencapai permukaan tanah. Diketahui rayap mempunyai perilaku menghindari cahaya, dengan adanya sumber cahaya yang masuk ke dalam sela-sela tanaman budidaya makan akan mengurangi infestasi serangan rayap. Pemusnahan dan pembongkaran sarang rayap juga dapat dilakukan agar sumber dari koloni dapat langsung dimusnahkan. Monitoring tanaman budidaya secara berkala untuk melihat tingkat serangan dari rayap. Deteksi dini yang dilakukan untuk mengetahui serangan hama rayap yang ada di lapangan apakah masih dalam kondisi populasi rendah atau dalam kondisi yang harus dikendalikan. Pengendalian rayap dapat dilakukan menggunakan agens biologis yaitu memanfaatkan musuh alami seperti semut, cendawan entomopatogen (Merarrhizium anisopliae, Beauveria bassiana), nematode entomopatogen (Steinernema dan Heterohabditis). Selain pengendalian menggunakan agens biologis, pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida baik yang berasal dari tanaman/botani atau dari sisntetik. Insektisida botanis yang dapat dimanfaatkan yaitu minyak cengkeh, minyak atsiri serai wangi, daun  dan biji mimba, serta asap cair (tandan kelapa sawit, cangkang kelapa, dll) atau menggunakan insektisida sintetik yang berbahan aktif fipronil, imidakloprid, etiprol serta hexaflumuron. Termisida berbahan aktif hexaflumuron paling banyak digunakan karena bersifat slow release/action. Dengan mode of action dari bahan aktif tersebut serta memanfaatkan dari perilaku rayap yaitu membawa sumber pakan ke sarang serta memberikan pakan ke individu lainnya. Alhasil, semua individu rayap dalam satu koloni akan terpapar termitisida berbahan aktif hexaflumuron tersebut dalam waktu tertentu.

Pengelolaan rayap di pertanian, perkebunan maupun di permukiman tidak akan berhasil tanpa mengetahui siapa dan bagaimana perilaku dari target yang akan dikendalian. Ketika sudah mengetahui kedua hal tersebut, maka pengendalian yang terintegrasi akan lebih mudah dan dapat tepat sasaran.