Logo

Daftar Berita

Noleech : Inovasi Mahasiswa IPB dalam memanfaatkan batang tembakau menjadi lotion

Lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berasal dari Fakultas Pertanian serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam telah berhasil membuat inovasi dalam memanfaatkan limbah batang tembakau menjadi lotion. Mereka adalah Juwadi, Ade Buchori, Fajar Gustian Reyzaldi, Yurike Kurnila Prastika, dan Rifany Fairuz Aqilah.

“Lotion ini dapat mencegah serangan pacet, lintah, dan nyamuk. Selain itu lotion ini mengandung bahan yang dapat melindungi kulit dari sinar UV sehingga sangat cocok bagi pecinta alam dan mahasiswa IPB yang biasa beraktivitas di luar ruangan” kata Juwadi selaku ketua kelompok.

Dukungan yang tinggi dari institusi disampaikan langsung oleh rektor IPB, Arif Satria yang dalam akun instagram pribadinya mengungkapkan rasa bangga karena mahasiswa IPB telah sukses membuat inovasi tersebut.

“ini merupakan karya mahasiswa IPB yang menurut saya sangat bagus sekali” tambah Arif Satria.

Jumlah petani tembakau terbanyak di ASEAN yaitu negara Indonesia dengan jumlah produksi mencapai 198.286 ton. Banyaknya produktivitas daun tembakau tersebut berbanding lurus dengan banyaknya batang tembakau yang menjadi limbah di lahan pertanian.

Jas (2013) menyatakan tembakau mengandung senyawa alkaloida berupa nikotin dan nikotianin. Senyawa alkaloida dapat merusak sistem saraf tangga tali pada permukaan kulit lintah dan pacet. Nikotin merangsang ganglia otonom dan sumbu neuromuskular yang dapat menyebabkan depresensia sistem saraf pusat lintah dan pacet.

Selain produk Noleech sedang diikutkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, saat ini Noleech sudah tersedia di Botani Mart IPB University, dengan harga Rp. 3000,- untuk kemasan sachet dan Rp. 20.000,- untuk kemasan tube.

Noleech juga sedang dilakukan uji sensitifitas di berbagai daerah di Indonesia dan di Jepang. Jepang dipilih karena merupakan negara dengan iklim yang sedikit berbeda dengan Indonesia. Dengan harapan produk Noleech ini bisa dipasarkan secara internasional.

“Kami akan terus berinovasi dalam mencapai Sustainable Development Goals 2030 di Indonesia dengan berlandaskan pemanfaatan kearifan lokal” tandas Juwadi.

PDF Download

Siaran Pers: Hama Ulat Impor Ancam Swasembada Jagung

Swasembada jagung yang dicapai akhir-akhir ini mendapat ancaman dengan munculnya serangan ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda). Ulat grayak ini merupakan hama baru yang pertama kali ditemukan menyerang lahan petanaman jagung di  Pasaman Barat pada 26 Maret lalu dan telah menyebar ke berbagai wilayah.

Pakar hama tanaman Institut Pertanian Bogor Dr. Dewi Sartiami mengungkapkan bahwa hama yang menyerang di Pasaman dipastikan merupakan hama baru. Hama ulat grayak jagung ini diketahui berasal dari Amerika Tengah. Ulat ini kemudian diketahui menyebar ke Afrika dan dalam waktu tidak terlalu lama menyebar ke India dan menimbulkan kerusakan lahan jagung yang cukup parah. Selain itu, di Thailand juga dilaporkan terjadi serangan ulat ini.

“Setelah diverifikasi oleh tim ahli penyakit tanaman IPB, diketahui hama yang menyerang di Pasaman itu memang positif Spodoptera frugiperda,” ujar Dewi. Serangan hama ini sangat merugikan petani sebab menghancurkan pertanaman jagung dan mampu menyerang tanaman pada semua fase pertumbuhan.

Sejak ditemukan pertama kali, saat ini hama ulat grayak ini telah dilaporkan dan tercatat keberadaannya di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Barat. Melihat sebaran serangan hama ini yang terus meluas, diperkirakan hama ini masuk ke Indonesia sudah cukup lama. “Karena hama kan perlu fase perkembangan, dan kalau melihat serangannya sudah mencapai puluhan hektare, diduga sudah lebih lama hama ini masuk Indonesia,” ujarnya. Namun demikian sampai saat ini masih belum dapat dipastikan bagaimana cara masuk ke Indonesia.

Sementara itu Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB, Suryo Wiyono mengungkapkan bahwa serangan hama ini sangat serius dan perlu menanganan yang serius pula. Sayangnya situasi ini belum diimbangi dengan tindakan kesiapsiagaan yang memadai. “Kepedulian, kewaspadaan dan tindakan terukur mengatasi masalah belum sepenuhnya tumbuh” ungkap Suryo.

Menurut suryo, semestinya kita memiliki rencana kontingensi dan dana darurat untuk menanggulangi situasi seperti ini. rencana kegentingan (contingency plan) untuk menghadapi situasi seperti itu. “Dengan demikian, jika hama dan penyakit baru masuk bisa segera ditangani dengan cepat agar terlokalisir dan tidak meluas, juga penting untuk menangkal masuknya serangan hama dan penyakit baru yang sudah muncul di negara-negara tetangga”ujarnya.

Suryo juga mengingatkan untuk tidak mengulang kejadian gagap ketika terjadi serangan hama baru seperti yang selama ini terjadi. “Belajar dari pengalaman, sampai saat ini belum ada ada success story membendung hama/pathogen baru” ungkapnya.

Menurut Suryo, merebaknya serangan hama ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda) hendaknya menjadi momentum bagi kita untuk menghindari kejadian serupa dimasa yang akan datang. Adanya rencana kegentingan dan unit khusus untuk situasi ini diperlukan sehingga dapat dilakukan respon atau tindakan cepat. Dengan demikian hama penyakit baru dapat diisiolasi dan tidak menyebar. Dengan demikian ketahanan dan kedaulatan pangan nasional tidak terganggu.

Adapun Ahli Hama lainnya dari IPB, Aunu Rauf, juga mengingatkan pentingnya tindakan penanganan sedini mungkin untuk mencegah penyebaran lebih luas.  Aunu juga menyarankan pengendalian dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. pengendalian sedapat mungkin dilakukan dengan pendekatan ramah lingkungan supaya ecosystem service tetap terjaga. dengan demikian pengendalian dapat dilakukan dengan dukungan lingkungan pertanian yang baik. "Pengendalian ini juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami. pada hama ini juga ditemukan musuh alami berupa Parasitoid (Telenomus), Entomopathogen (Metharizium, NPV) salah satu contohnya" ungkap Aunu.

Sebagai upaya penanganan sementara,  Dewi menyarankan kepada petani jagung untuk lebih memperhatikan lahannya, dan ketika ditemukan adanya ulat ini, maka harus dilakukan pembersihan secara mekanis dengan cara mengambil telurnya. “Kalau petani bisa memonitor lahannya dan bisa cepat melakukan pembersihan, peluang untuk tanaman selamat dari serangan bisa lebih besar,” pungkasnya.

informasi lebih lanjut:

Suryo Wiyono, +62 813-9853-5771

Catatan:

  1. Ulat Grayak Jagung (Spodoptera frugiperda) GJ merupakan hama invasive, menyebar ke seluruh dunia sebagai pendatang baru dengan kemampuan merusak tinggi
  2. Potensi  damage loss meliputi kerugian ekonomi. Telah menimbulkan kerusakan yang serius di India, Brazil, Togo, Afrika dan Thailand
  3. Ditemukan musuh alami berupa Parasitoid (Telenomus), Entomopathogen (Metharizium, NPV). Hal ini menunjukkan  Ecosystem Service Indonesia cukup berkerja.
  4. Upaya pengendalian didasari tindakan yang tidak panik. Melakukan upaya monitoring. selain itu juga lakukan kegiatan pengumpulan kelompok telur, dan larva. Adapun pengendalian Hayati dapat dilakukan dengan musuh alami yaitu Telenomus (parasitoid), dan cendawan Nomuraea sp. Juga melakukan tumpang Sari/Mix Cropping. Hal lain yang penting adalah adanya keterpaduan  Para Pihak (Petani, POPT, Dinas, Perg Tinggi, Direktorat.

PDF Download

DNA Barcode untuk Identifikasi Nematoda Puru Akar

Salah satu kelompok Program Kreativitas mahasiswa (PKM) yang berasal dari Dpertemen Proteksi Tanaman mendapat sorotan dari media IPB University (IPB Today) berkat kreativitas mereka dalam melakukan deteksi Nematoda Puru Akar (NPA) dengan menggunakan DNA Barcode, kelompok PKM itu diketuai oleh Ni Wayan Kartika Pratiwi dengan dua anggota yaitu Fawwaz El Auly dan Rosyid Amrulloh dan dibimbing langsung oleh staf dosen muda Fitrianingrum S.P, M.Si.

Metode DNA Barcoding ini dinlai lebih cepat dan akurat untuk mengidentifikasi NPA dibandingkan dengan metode identifikasi yang konvensional seperti melihat pola perineal atau sidik pantat yang selama ini dilakukan.

Selengkapnya, berikut liputan yang dirangkum oleh team IPB Today:

PDF Download

Visitasi Kegiatan Penelitian Mahasiswa Doktoral P.S Fitopatologi

Staf Pengajar Departemen Proteksi Tanaman IPB university yang terdiri dari Prof. Meity Suradji Sinaga, Prof. Sri Hendrastuti Hidayat dan Dr. Giyanto melakukan visitasi (kunjungan lapangan) terhadap dua penelitian mahasiswa Doktoral Program Studi Fitopatologi pada tanggal 25-27 Juni 2019. Kedua mahasiswa tersebut yaitu Yuliana Susanti dan Bayo Alhusaeri Siregar yang melakukan penelitian di Research and Development (R&D) PT. Sinarmas Forestry yang berlokasi di Perawang, Riau. Topik penelitian dua mahasiswa Program Doktoral ini adalah penyakit layu bakteri pada tanaman eukaliptus. Kunjungan diawali dengan melihat proses produksi bibit eukaliptus di pembibitan eukaliptus di lapangan dan beberapa fasilitas laboratorium (Lab. kultur jaringan, bioteknologi, tanah, hama dan penyakit).

Pada kunjungan lapangan ini, ditemukan beberapa permasalahan hama dan penyakit diantaranya penyakit layu bakteri (Ralstonia solanasearum), penyakit busuk akar (Ganoderma phillipii), busuk batang (Ceratocystis sp.) dan hama penggerek batang cincing (Zeuzera sp.). Pada visitasi ini, kedua mahasiswa memaparkan laporan perkembangan hasil penelitian yang sedang dilakukan. Pada akhir kunjungan, dilakukan Kuliah Umum oleh Dr. Giyanto mengenai Pengendalian Hayati yang dihadiri oleh para peneliti R&D PT. Sinarmas Forestry. Prof. Sri Hendrastuti Hidayat sebagai ketua program studi Fitopatologi mengucapkan terima kasih kepada R&D PT. Sinarmas Forestry yang telah membantu memfasilitasi penelitian mahasiswa doktoral ini, serta berharap penelitian dapat selesai tepat waktu serta hasil penelitian dapat membantu menyelesaikan permasalahan hama dan penyakit di pertanaman eukaliptus.