Logo

What We're Doing Right Now

  • Halal-Bihalal Alumni HPT/PTN - IPB 2017

    Halal-bihalal merupakan salah satu tradisi yang berkembang di Islam, biasanya dilakukan setelah perayaan hari raya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam. Dewasa ini, Halal-bihalal diartikan lebih luas dan sering disamakan dengan acara reuni suatu kelompok. Tanggal 16 Juli 2017 yang lalu Departemen Proteksi Tanaman dan Himpunan Alumni HPT/PTN menyelanggarakan Halal-bihalal Alumni PTN/HPT – IPB. Acara ini merupakan acara kedua, sebelumnya acara serupa juga diselenggarakan pada tahun 2015.

    Acara Halal-bihalal ini diselenggarakan di Cafe Taman Koleksi IPB Baranangsiang dan dihadiri dari oleh perwakilan seluruh angkatan, mulai dari angkatan 0 atau sebelum IPB itu berdiri sampai dengan angkatan 50. Sekitar 250-an peserta termasuk panitia dari 296 peserta yang mendaftar.

    Selain acara-acara utama seperti  sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, ketua alumni, dan ketua departemen, acara Halal-bihalal ini juga diisi dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pensiunan tenaga kependidikan. Acara yang dinantikan selanjutnya adalah hiburan berupa pertunjukkan organ tunggal yang diselingi dengan menyantap berbagai makanan khas kota bogor, berupa Soto mie, Laksa, Cilok, dan Asinan. Acara diakhiri dengan prosesi foto bersama seluruh angkatan yang hadir.

    Read More

Recent News

Halal-Bihalal Alumni HPT/PTN - IPB 2017

Halal-bihalal merupakan salah satu tradisi yang berkembang di Islam, biasanya dilakukan setelah perayaan hari raya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam. Dewasa ini, Halal-bihalal diartikan lebih luas dan sering disamakan dengan acara reuni suatu kelompok. Tanggal 16 Juli 2017 yang lalu Departemen Proteksi Tanaman dan Himpunan Alumni HPT/PTN menyelanggarakan Halal-bihalal Alumni PTN/HPT – IPB. Acara ini merupakan acara kedua, sebelumnya acara serupa juga diselenggarakan pada tahun 2015.

Acara Halal-bihalal ini diselenggarakan di Cafe Taman Koleksi IPB Baranangsiang dan dihadiri dari oleh perwakilan seluruh angkatan, mulai dari angkatan 0 atau sebelum IPB itu berdiri sampai dengan angkatan 50. Sekitar 250-an peserta termasuk panitia dari 296 peserta yang mendaftar.

Selain acara-acara utama seperti  sambutan-sambutan dari ketua pelaksana, ketua alumni, dan ketua departemen, acara Halal-bihalal ini juga diisi dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pensiunan tenaga kependidikan. Acara yang dinantikan selanjutnya adalah hiburan berupa pertunjukkan organ tunggal yang diselingi dengan menyantap berbagai makanan khas kota bogor, berupa Soto mie, Laksa, Cilok, dan Asinan. Acara diakhiri dengan prosesi foto bersama seluruh angkatan yang hadir.

Peneliti IPB: Ini Penyebab Serangan Wereng Batang Cokelat

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Dalam dua bulan ini, Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) banyak menerima pesan melalui WhatsApp (WA) dan kiriman foto tentang serangan hama wereng batang coklat (WBC) dari petani-petani jaringan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB dan anggota Gerakan Petani Nusantara (GPN).  Kondisi ledakan hama ini menyerupai yang terjadi pada tahun 2011/2012, hanya saja lokasinya lebih luas.

Pada tahun 2011/2012 ledakan hanya terjadi di sentra produksi padi di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta) dan menyebabkan Indonesia harus impor beras sekitar dua juta ton.  Ledakan WBC yang sekarang juga dilaporkan di daerah lain dan luar Jawa, seperti Pandeglang, Sumatera selatan (OKU dan OKUT), Jambi, Sumut, Lampung dan Sulawesi.

Siaran pers IPB yang diterima Republika.co.id, Jumat (9/6) menyebutkan, fenomena ledakan wereng ini selain karena faktor agroklimat ternyata juga dipicu oleh penggunaan pestisida. Penelitian IPB sejak tahun 1986 hingga sekarang menunjukkan hubungan positif antara wereng dan penggunaan pestisida.

Menurut  peneliti di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian (Faperta) IPB Dr.  Hermanu Triwidodo, penggunaan pestisida mendorong peningkatan serangan wereng. Semakin sering menyemprot, maka peluang terjadinya puso semakin besar.

“Penyebab ledakan adalah pemaksaan penanaman padi yang terus-menerus tanpa jeda, penggunaan insektisida yang terlarang untuk padi, serta pemupukan yang tidak seimbang, serta kesuburan tanah yang kritis,” ujar Hermanu.

Ia mengemukakan, penggunaan pestisida (insektisida, fungisida, herbisida dan bakterisida) pada padi sawah sangat tinggi. Contohnya,  di Karawang (Jawa Barat) rata-rata 11 kali per musim, sedangkan di Klaten (Jawa Tengah)  12 kali per musim.

“Hal ini melemahkan ketahanan ekosistem sawah karena matinya serangga musuh alami, kematian mikrob endofit, kerusakan keanekaragaman hayati mikroflora dan mesofauna dan rusaknya jaring makanan yang kompleks di sawah,” tutur  Hermanu.

Klinik Tanaman IPB, LPPM IPB dan GPN telah memberi peringatan akan kemungkinan terjadinya ledakan WBC dan menyediakan teknologi untuk menghindarinya. Ledakan wereng coklat tersebut disebabkan oleh adanya spot populasi wereng  coklat di hampir semua  daerah sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Di samping itu, prakiraan curah hujan di atas normal pada  berbagai sentra beras pada musim hujan dan penggunaan pestisida terlarang dan aplikasi yang berlebihan oleh petani.

“Faktor lainnya adalah penggunaan pestisida yang berlebihan. Sebabnya marketing dan distribusi pestisida yang tidak terkontrol, kekalahan pelayanan pemerintah di bidang pertanian dibanding kios pestisida,  banyaknya bantuan pestisida oleh pemerintah, dan petani lupa akan Pengendalian Hama Terpadu (PHT),” ujarnya.

 

Berdasar pada permasalahan tersebut, kata Hermanu, Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB merekomendasikan penegasan kembali Inpres No. 3 Tahun 1986 tentang penerapan PHT dan pelarangan 57 jenis insektisida dan pelarangan terhadap pestisida lain penyebab resurgensi wereng pada tanaman padi. Juga, moratorium pengadaan pestisida oleh pemerintah serta pengalokasian pendidikan petani dan pemberdayaan pembuatan sarana pengendalian ramah lingkungan.

“Untuk musim tanam yang sedang berlangsung, jika terpaksa menggunakan pestisida, harus menggunakan pestisida yang mendapat izin penggunaan untuk wereng.  Jajaran penyuluh harus secara proaktif memberikan penyuluhan, jangan menyerahkannya pada kios penjual racun. Perlu penataan kembali regulasi pengelolaan pestisida  mulai pendaftaran, produksi, distribusi, pemasaran dan pemusnahannya,” paparnya.

Hermanu juga menegaskan, pentingnya peningkatan kerja sama dan koordinasi antara Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi petani dalam pengembangan upaya penanggulangan ledakan wereng. “Sinkronisasi dan harmonisasi kinerja aparat pertanian secara vertikal (pusat-daerah) dan horisontal (antar lembaga pelayanan pertanian) perlu ditingkatkan untuk mengatasi serangan WBC,” tutur Hermanu Triwidodo.

Sumber artikel

Tahun 2010 juga merupakan salah satu tahun dengan angka Outbreak WBC yang tinggi, dan dengan kondisi tersebut tahun 2010 Departemen Proteksi Tanaman yang mewakili IPB melakukan koordinasi nasional untuk menanggulangi kondisi saat itu, berikut video reportase penganggulangan WBC pada Tahun 2010

Sumber

12th Anniversary of Insect Museum ‘Soemartono Sosromarsono’ IPB

“Museum serangga harus menjadi jendela dunia bagi manusia untuk mengenal serangga”, demikian pesan yang disampaikan oleh Dr Suryo Wiyono, MSc.Agr selaku Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB pada pembukaan agenda 12th Anniversary of Insect Museum Soemartono Sosromarsono, Sabtu, 20 Mei 2017 yang lalu. Bersamaan dalam sambutannya, beliau juga menuturkan bahwa semangat perjuangan Profesor Soemartono Sosromarsono sebagai entomologis pertama Indonesia yang berasal dari pribumi, harus dirasakan oleh mahasiswa dan mendorong mereka untuk mempelajari dunia serangga ini lebih mendalam. Ibu Atiek Sinarwati, sebagai perwakilan dari museum serangga turut menuturkan perjalanan museum serangga yang telah menyimpan koleksi lebih dari 1000 spesies serangga ini. Selain itu, beliau juga menjelaskan berbagai agenda yang rutin diadakan museum serangga dalam rangka memberikan edukasi kepada mahasiswa dan masyarakat umum terkait serangga.

Peringatan ulang tahun museum serangga ini juga dimeriahkan dengan perlombaan identifikasi serangga dan ‘spelling-bee’. Lomba identifikasi serangga dilakukan untuk memperdalam pengetahuan serta mengasah pemahaman peserta terkait ordo, famili, bahkan nama spesies suatu serangga. Sementara itu, lomba ‘spelling-bee’, menuntut peserta agar mampu mengeja penamaan ataupun istilah yang berkaitan dengan serangga menggunakan bahasa Inggris dengan benar. Meski sehari-hari mahasiswa telah bergelut dengan berbagai kesibukan perkuliahan dan praktikum, adanya perlombaan ini diharapkan mampu me-refresh kembali materi-materi yang telah diperoleh dengan lebih fun.

Agenda yang dilaksanakan di Ruang Sidang 1 Departemen Proteksi Tanaman IPB ini, diikuti oleh mahasiswa/i dari Departemen Proteksi Tanaman, Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan dan Pascasarjana Entomologi IPB. Perlombaan berlangsung secara sportif dan diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta. Tampil sebagai 5 besar finalis lomba identifikasi serangga yakni Ratna Nengsih (PTN 50), Sefin Mei S (PTN 51), Fusna A Khoiril Y (PTN 48), Maya Eka Sari (PTN 50) dan Nurul Novianti (PTN 48). Sementara itu, Azru Azhar (Entomologi 2016), Nurul Novianti (PTN 48), Juliana Sani (PTN 50), Cindy Aprilla P (PTN 50), dan Tri Ungki Y (PTN 50) menjadi 5 terbaik dalam lomba ‘spelling-bee’. Peringatan ulang tahun museum serangga yang ke-12 tahun ini ditutup dengan pembagian hadiah pada pemenang, acara ramah tamah dan makan tumpeng bersama.

Museum serangga telah menyimpan banyak sejarah dan ilmu yang sangat berharga terkait dunia serangga. Maka sudah selayaknya harus terus diperkenalkan kepada masyarakat, karena museum serangga adalah jendela dunia serangga bagi manusia. 

Repotase: Arini (Entomologi S2 2014)

EKSPEDISI PADI NUSANTARA: Impor Benih Padi, Impor Benih Penyakit

Bogor, Villagerpost.com – Dalam sepuluh tahun belakangan ini, pemerintah getol melakukan impor benih padi sebar (benih padi yang siap tanam) dalam jumlah besar. Pada tahun 2007-2014 misalnya, pemerintah tercatat telah mengimpor sebanyak 3.888 ton benih sebar per tahun. Sementara itu, antara tahun 2015 – 2016, pemerintah mengimpor antara 1.000-1.500 ton benih tahun. Impor benih oleh pemerintah yang diniatkan untuk menggenjot produksi padi nasional dalam rangka mencapai swasembada pangan ini, ternyata malah menimbulkan dampak yang dapat mengganggu tujuan pemerintah itu sendiri.

Pasalnya, pada benih yang diimpor, ternyata terdapat pula benih penyakit yang termasuk bibit penyakit berbahaya. Kedua jenis penyakit itu adalah Aphelenchoides besseyi (penyakit pucuk putih) dan Burkholderia glumae (penyebab busuk bulir). Hal itu terungkap dalam ekspose hasil survei yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) Institut Pertanian Bogor yang bertajuk “Ekspedisi Padi Nusantara” yang dihelat di auditorium Fakultas Pertanian IPB, Bogor, Sabtu (15/4).

 

Ketua Himasita W.R Nanta mengatakan, program survei ‘Ekspedisi Padi Nusantara’ ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, menggali data serangan Burkhoderia glumae dan Aphelenchoides besseyi pada tanaman padi. Kedua, mencatat status organisme pengganggu tanaman (OPT) padi dan hubungannya dengan faktor lingkungan dan praktik budidaya. Ketiga, mendapatkan data persepsi petani terhadap kebijakan dan program pertanian yang digulirkan pemerintah dalam rangka kedaulatan pangan,” ujarnya.

Mengapa padi? Nanta mengatakan: “Pertama, padi komoditas penting. Kedua, menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketiga, volume produksi besar.”

Survei itu sendiri dilaksanakan pada 20 Januari 2017 hingga 14 Februari 2017. Survei dilaksanakan di 18 Provinsi, mencakup 62 Kabupaten dan dilakukan pada 206 titik. Kegiatan ini sendiri dilakukan dengan memanfaatkan waktu libur akademik dengan memberdayakan para mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB yang pulang ke daerah asalnya masing-masing untuk mengambil data.

Para mahasiswa mencatat data terkait serangan Burkhoderia glumae (BG) dan Aphelenchoides besseyi (AB) di wilayah masing-masing. Kemudian mencatat status OPT pdi dan hubungannya dengan faktor lingkungan dan praktik budidaya. Ketiga, mendapatkan data petani dan pertanian khususnya persepsi petani terhadap kebijakan dan program pertanian yang digulirkan pemerintah dalam rangka kedaulatan pangan.

Metode yang dilakukan adalah mendatangi tiga orang petani yang tanaman padi di sawahnya sudah bermalai. Kemudian, mengambil gambar gejala serangan penyakit BG dan AB untuk ditunjukkan kepada petani agar petani tahu gejala serangan kedua penyakit tersebut. Gambar diambil secara close up dan juga gambar hamparan. Bila ada sisa gabah panen musim lalu, akan diminta sebanyak 200 gram untuk dianalisis.

Contoh tanaman dalam lahan diambil sebanyak 3 malai bergejala dan 3 malai tak bergejala. Petani juga diwawancarai dengan pertanyaan seputar varietas yang ditanam, pupuk yang digunakan, OPT yang menyerang, cara pengendalian OPT. Koordinat sawah yang terkena gejala serangan AB dan BG juga dicatat. Petani juga ditanya soal persepsi pada keadaan pertanian terkait akses pada benih, subsidi, dan lain-lain. Dalam survei ini, terkait benih, diklasifikasikan ke dalam empat kategori yaitu benih bantuan pemerintah, benih hasil membeli di toko, benih dari penangkaran petani sendiri (asal benih bisa dari pemerintah atau membeli di toko dan diambil sebagian untuk benih musim tanam berikut), dan hasil pemuliaan petani sendiri.

Dari hasil survei diketahui, untuk gambaran umum petani, dari sisi usia, rata-rata berada di atas 40 tahun. Petak lahan sawah yang dimiliki petani sempit yaitu 3000 meter persegi. Petani juga memiliki banyak keluhan mengenai akses dan sarana pertanian. Pengetahuan petani mengenai emerging desease (penyakit baru) sangat kurang.

Untuk wilayah sebaran penyakit, Jawa Bagian Barat adalah wilayah yang paling banyak ditemukan gejala serangan BG, dari hasil pengamatan visual. Dari 44 titik yang diamati, 25 titik (56,8%) didapati ada gejala serangan BG. Sementara yang tidak teramati ada gejala BG di Jawa Bagian Barat sebanyak 19 titik (atau 43,2%).

Kedua adalah wilayah luar Jawa (Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi). Dari 57 titik yang diamati, 24 titik (42,1 persen) terdapat gejala serangan BG, sementara 33 titik (57,9%) tidak ditemukan gejala serangan BG. Berikutnya adalah Jawa Bagian Tengah. Dari 81 titik yang diamati, 32 titik (39,5%) terdapat gejala serangan BG, sementara 49 titik (60,5%) tidak ditemukan. Paling rendah adalah Jawa Timur, dari 24 titik yang diamati, 4 titik (16,7% ditemukan gejala BG, sementara 20 titik (80,3%) tidak ditemukan.

Dari hasil penelitan juga diketahui, ragam varietas padi yang terkena gejala serangan BG. Yang tertinggi adalah varietas Serang, Dari total 8 titik yang diamati, 5 titik (62,5%) wilayah yang menanam varietas ini ditemui ada gejala BG. Berikutnya adalah IR 64, dimana dari 35 titik yang diamati, sejumlah 16 titik (45,7%) wilayah yang menanam padi varietas ini terlihat gejala BG.

Berikutnya, varietas Ciherang, dimana dari 51 titik yang diamati, 19 titik (37,3%) wilayah yang menanam varietas ini ditemukan gejala serangan BG. Kemudian varietas Mekongga, dari 17 titik yang diamati, 6 titik (35,3 persen) wilayah yang menanam varietas ini ditemukan gejala serangan BG. Yang terendah adalah varietas Cisokan dimana dari 4 titik yang diamati, tidak ada satupun yang terkena gejala serangan BG.

Sementara itu, soal hubungan antara asal benih dengan ditemukannya gejala BG, dari hasil survei di seluruh titik diketahui, gejala penyakit BG paling tinggi ditemukan pada varietas yang didapatkan oleh kelompok tani dimana 3 titik yang diamati, 2 titik diantaranya mengandung gejala serangan BG. Berikutnya adalah pada benih yang berasal dari bantuan pemerintah. Dari 48 titik yang diamati, 22 titik yang menanam benih padi bantuan pemerintah (45,8%) ditemukan gejala serangan BG.

Berikutnya adalah pada benih yang berasal dari toko dimana dari 102 titik yang diamati, pada 42 titik yang menanam padi yang berasal dari membeli di toko (41,2%) mengalami gejala serangan BG. Yang terendah adalah pada padi hasil pembiakan petani sendiri dimana dari 52 titik, hanya 19 titik yang menanam padi hasil biakan sendiri (36,5%) yang ditemukan gejala serangan BG.

Sementara untuk gejala serangan AB, Jawa Bagian Barat juga menjadi wilayah yang paling banyak ditemukan gejala serangan AB. Dari 7 titik yang diamati, 5 titik diantaranya (71,4%) mengalami gejala serangan AB. Kedua diduduki Jawa Bagian Timur dimana dari 9 titik 6 titik (66,7%) mengalami gejala serangan AB. Berikutnya Jawa Bagian Tengah dari 18 titik yang diamati, 9 titik (50%) ditemukan gejala serangan AB, sama dengan Luar Jawa dimana dari 3 titik yang diamati, 3 diantaranya (50%) terdapat gejala serangan AB.

Dari sisi varietas, varietas Ciherang paling banyak ditemukan serangan AB, dari 14 titik yang diamati, 10 titik yang menanam varietas Ciherang (71,4%) mengalami gejala serangan AB. Berikutnya ditempati secara bersama oleh varietas IR 64, Serang dan Situ Bagendit dengan 50%. Untuk IR 64 dari 8 titik yang diamati, 4 titik menunjukkan gejala serangan AB. Yang terendah adalah Mekongga dimana dari 3 titik yang diamati, semua titik yang menanam varietas ini tidak ditemukan gejala serangan AB (0%).

Sementara itu, soal hubungan antara asal benih dengan ditemukannya gejala AB, dari hasil survei di seluruh titik diketahui, gejala penyakit AB paling tinggi ditemukan pada varietas yang didapatkan oleh kelompok tani dimana dari 1 titik yang diamati, ditemukan gejala serangan BG. Berikutnya adalah pada benih yang berasal dari pembiakan sendiri oleh petani, dimana dari 10 titik yang diamati, 6 titik yang menanam padi yang dibiakkan sendiri oleh petani (60%) ditemukan gejala serangan AB. Kemudian, dari benih yang berasal dari pemerintah dan membeli di toko dengan 53,8%. Titik yang diamati sama yaitu dari 13 titik yang diamati, 7 titik yang menanam padi yang berasal dari pemerintah dan membeli di toko ditemukan gejala serangan AB.

Terkait rekomendasi, untuk penyakit BG, ada beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan. Pertama, perlakuan benih dengan cuka konsentrasi 2% mampu mengendalikan B. glumae tanpa mempengaruhi perkecambahan benih. Kedua, pemanasan kering pada suhu 55 derajat celcius mampu menurunkan daya bertahan B. glumae yang diaplikasikan beberapa jam. Ketiga, kombinasi perlakuan antara perlakuan panas kering 55 derajat celcius dan cuka 2% menunjukan penurunan signifikan terhadap pemulihan bakteri B. glumae tanpa menurunkan daya kecambah benih. Keempat, standar perlakuan air panas 55 derajat celcius mampu mengurangi tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan bakteri B. glumae dalam arti lain benih masih mengandung B. glumae. Rekomendasi ini diambil dari Trijoko, yang dipaparkan dalam Simposium Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih, Bogor 10 Januari 2017.

Untuk penyakit AB, rekomendasinya adalah: Pertama, tetap sebagai OPT Karantina pada negara produsen padi, karena ada peluang muncul ras-ras baru. Kedua, regulasi yaitu membatasi masuknya inokulum baru, eliminasi patogen pada media pembawa, eliminasi patogen pada daerah terinfestasi, pencegahan pemencaran ke wilayah yang masih bebas. Ketiga, merancang strategi pengendalian yang segera dapat diterapkan di tingkat petani, misalnya “perlakuan air panas (hot water treatment) benih padi”, varietas padi tahan dan toleran, teknik pengendalian di pembibitan/lapangan dan lain lain. Rekomendasi ini disampaikan Supramana, pada Simposium Kemunculan Penyakit Baru dan Impor Benih, Bogor 10 Januari 2017.

Sumber: Villagerspost.com

Recent Events

Seminar Agroekologi Nusantara

29 November 2016

Gedung Kuliah A, Fakultas Pertanian - IPB, Bogor

Diskusi Panel Proteksi Tanaman: Penyelamatan Produksi Beras Nasional dari Ledakan Penyakit Blas

01 October 2016

Institut Pertanian Bogor, Dramaga Bogor